
PRESIDEN Suriah Ahmed al-Sharaa membantah negaranya berupaya melakukan intervensi militer di Libanon, kawasan di mana Israel dan Hizbullah tengah terlibat perang. Pernyataan ini disampaikan pada hari Minggu guna menanggapi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang berulang kali menyiratkan Damaskus bisa ikut terlibat dalam konflik tersebut.
“Kami mencari saluran ekonomi antara Libanon dan Suriah, bukan saluran militer,” kata Sharaa dalam sebuah wawancara yang disiarkan di saluran televisi Al Mashhad.
Sebelumnya pada hari Minggu, Trump menyatakan kepada Fox News bahwa dirinya “kecewa Israel tidak dapat menumpas Hizbullah”. Merujuk pada pertempuran melawan kelompok militan tersebut, Trump menambahkan, “Saya hampir menyerahkannya kepada Suriah.”
Tak hanya itu, saat menghadiri KTT G7 di Prancis, Trump juga melontarkan pernyataan serupa. “Jika Israel tidak dapat menyelesaikan pekerjaan tersebut (melawan Hizbullah) tanpa membunuh semua orang, maka dia (Sharaa) yang akan menyelesaikannya. Suriah yang akan menyelesaikan pekerjaan itu,” ujar Trump.
Sikap Suriah saat ini sangat bertolak belakang dengan masa lalu. Ketika perang saudara di Suriah bergejolak, Hizbullah sempat bertempur bersama penguasa lama Bashar al-Assad. Namun, setelah Assad digulingkan pada 2024, Sharaa dan otoritas baru Suriah menjadi sangat memusuhi kelompok tersebut. Selain itu, Suriah juga memiliki sejarah panjang mendominasi Libanon sejak intervensi militer pada perang saudara tahun 1975-1990, sebelum akhirnya menarik diri pada 2005.
Dalam wawancara tersebut, Sharaa menjelaskan Suriah dan AS telah mengusulkan agar perang segera dihentikan.
“Harus ada berbagai solusi, termasuk ekonomi, politik dan sosial, serta pemulihan hubungan dan jalur ekonomi penting antara Suriah dan Libanon,” kata Sharaa. “Dan di samping itu, beberapa langkah keamanan yang pertama-tama menjawab kekhawatiran Suriah dan Libanon, dan juga kekhawatiran Israel.”
Ia menambahkan Suriah memiliki banyak instrumen untuk memberikan dampak positif di Libanon, namun hal itu tetap bergantung pada kesepakatan Libanon. “Suriah sangat prihatin dengan situasi domestik Libanon karena keamanan dan stabilitas Libanon adalah bagian dari keamanan dan stabilitas Suriah,” imbuhnya.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan untuk duduk satu meja dengan Hizbullah, Sharaa menjawab secara diplomatis. “Jika hal ini demi kepentingan Libanon dan melindungi kepentingan Suriah, mengapa tidak?” pungkasnya. (AFP/Z-2)
