Wednesday, September 23

Rebalancing MSCI Jadi Alarm Transparansi dan Tata Kelola Emiten RI


Ilustrasi bursa saham(Antara Foto)

KEPUTUSAN rebalancing MSCI atau Morgan Stanley Capital International mendepak sejumlah saham dari pasar modal Indonesia dinilai menjadi alarm penting bagi transparansi dan tata kelola emiten di dalam negeri. 

Pengamat ekonomi Universitas Brawijaya Noval Adib menilai langkah tersebut menunjukkan ukuran kapitalisasi pasar saja tidak lagi cukup untuk menarik minat investor global apabila tidak diimbangi dengan free float atau saham beredar publik yang memadai, likuiditas tinggi, serta akses investasi yang terbuka bagi investor asing. 

“Bagi Indonesia, pasar modal dan para emiten saham, hal ini tentu bisa menjadi momentum untuk meningkatkan transparansi dan tata kelola pasar modal serta perusahaan,” ujar Noval kepada Media Indonesia, Jumat (15/5).

Menurut Noval, langkah tegas MSCI mendepak sejumlah saham berkapitalisasi besar sangat bisa dipahami karena ada standar utama yang tidak terpenuhi, terutama terkait saham beredar publik dan akses investor asing. 

Ia menegaskan, regulator pasar modal Indonesia, yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) harus merespons tuntutan MSCI secara positif dan sigap. Menurutnya, tuntutan tersebut justru baik untuk mendorong pasar modal Indonesia menjadi lebih sehat dan kompetitif di tingkat global.

“Momentum ini sekaligus menjadi pengingat bagi regulator dan pelaku pasar untuk memperkuat kualitas tata kelola, meningkatkan keterbukaan informasi, dan menciptakan pasar modal yang lebih sehat serta kredibel di mata investor internasional,” tegasnya.

Noval menilai OJK dan BEI perlu memastikan saham-saham yang tercatat di bursa memiliki likuiditas tinggi, mudah diperjualbelikan oleh investor global, tidak mudah dimanipulasi, serta memiliki harga yang benar-benar mencerminkan mekanisme supply and demand yang sehat. Selain itu, aspek transparansi juga harus diperkuat agar saham dengan kepemilikan terlalu terkonsentrasi atau free float kecil dapat lebih mudah diketahui publik maupun investor.

“Untuk kemudian biar para investor itu sendiri yang memutuskan apakah mau invest di saham-saham seperti itu atau tidak,” katanya.

Ia menambahkan, MSCI pada dasarnya lebih menyukai emiten dengan free float besar, kepemilikan yang tersebar, likuiditas tinggi, serta basis investor yang beragam. Karena itu, keluarnya enam saham besar dari indeks MSCI dinilai sebagai konsekuensi logis dari disiplin MSCI dalam menjaga standar dan reputasinya sebagai lembaga riset investasi global independen.

Menurut Noval, MSCI tentu tidak akan mengorbankan reputasinya dengan tetap mempertahankan saham-saham yang dinilai bermasalah berdasarkan standar mereka ke dalam indeks yang disusun. Terlebih, pengguna utama layanan MSCI adalah investor institusi global yang memiliki standar tinggi dan tidak bisa diabaikan.

“MSCI tentu sadar user atau pengguna jasa mereka adalah investor institutional dunia yang tentunya bukan institusi sembarangan yang bisa diabaikan begitu saja,” pungkasnya. (H-4)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *