Tuesday, September 29

Rilis Lima Lagu dan Isi Soundtrack Film, Mahasiswa Ini Buktikan Bakat tidak Menunggu Ijazah


Sere Pasaribu (tengah)(MI/HO)

PERSAINGAN ketat di industri musik tanah air tidak menyurutkan langkah Sere Pasaribu untuk menancapkan taringnya sebagai musisi profesional. Mahasiswi Program Musik UIC College ini membuktikan bahwa status akademis bukan penghalang untuk melahirkan karya yang diakui industri, bahkan sebelum ia menggenggam gelar sarjana.

Perjalanan artistik Sere dirangkum secara apik dalam sebuah Senior Vocal Recital bertajuk To Love, To Lose, To Learn yang digelar di Balai Resital Kertanegara, Jakarta, pada Jumat (12/6/2026).

Pertunjukan ini bukan sekadar syarat kelulusan, melainkan sebuah narasi emosional yang dibagi ke dalam lima babak: Naive, Heartbreak, Return, Reblooming, dan Bittersweet.

“Setiap orang pernah mencintai, kehilangan, lalu belajar. Pengalaman itulah yang saya terjemahkan ke dalam musik. Bagi saya, musik adalah cara memahami dan membagikan pengalaman hidup,” ujar Sere.

Selama masa kuliah, ia mengaku mendapatkan ruang luas untuk bereksperimen dan menemukan identitas artistiknya.

Profil Karya Sere Pasaribu







Kategori Detail Karya
Lagu Orisinal Like I Always Do, Stupid For Loving U, 8 8 18th, Buatku Berarti, Mungkin Tak Harus Terjawab
Proyek Film Pengisi Vokal Soundtrack Film “Malam 3 Yasinan”
Platform Rilis Spotify, Apple Music (via UIC College of Music & Nayanara Svara)

Transformasi Pendidikan Musik

Keberhasilan Sere tidak lepas dari model pendidikan yang menitikberatkan pada praktik industri. Irfas, Program Leader Music UIC College, menegaskan bahwa mahasiswa saat ini dituntut untuk membangun portofolio sejak dini.

“Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teori. Mereka harus berkolaborasi dan memahami standar industri melalui proyek nyata selama masa studi,” jelasnya.

UIC College menerapkan kurikulum Pearson BTEC asal Inggris dengan program 2+1. Melalui skema ini, mahasiswa menempuh dua tahun studi di Indonesia dan melanjutkan tahun terakhir di universitas mitra di Inggris. Pendekatan project-based learning ini memungkinkan mahasiswa seperti Sere untuk merasakan langsung tanggung jawab profesional, seperti saat ia terlibat dalam pengisian soundtrack film.

Niluh Komang Aimee Sukesna, Director of Marketing and Student Experience USG Education, menambahkan bahwa fenomena ini mencerminkan pergeseran paradigma dalam pendidikan kreatif.

“Dulu mahasiswa belajar dulu baru bekerja. Sekarang, mereka membangun karier selama studi. Hasilnya bukan hanya gelar, tapi kesiapan menghadapi industri nyata,” pungkasnya.

Dengan semangat “The World is Here”, perjalanan Sere Pasaribu menjadi inspirasi bagi talenta muda lainnya bahwa ruang kelas kini telah bertransformasi menjadi ruang produksi yang sesungguhnya. (Z-1)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *