Friday, September 25

Strategi Jemput Bola Pastikan Korban Banjir Aceh Tetap Berangkat Haji 2026


Jamaluddin Affan Asyi atau yang akrab disapa Syekh Jamal, Tim Koordinasi dan Pengendali Jemaah Haji Aceh pada PPIH Arab Saudi.(Dok.MCH 2026)

KEHILANGAN tempat tinggal dan harta benda akibat banjir besar akhir 2025 tidak menyurutkan langkah warga Aceh untuk tetap berangkat ke Tanah Suci. Meski didera cobaan bencana, keteguhan hati para jemaah ini menjadi motor penggerak bagi pemerintah pusat dan daerah untuk melakukan upaya  demi memastikan keberangkatan mereka pada musim haji 2026.

Komitmen tersebut ditegaskan oleh Jamaluddin Affan Asyi atau yang akrab disapa Syekh Jamal, Tim Koordinasi dan Pengendali Jemaah Haji Aceh pada PPIH Arab Saudi. Ia memaparkan perjuangan panjang lintas instansi demi memastikan para korban bencana tetap dapat menunaikan rukun Islam kelima meski kehilangan harta benda.

Sebagaimana diketahui, banjir bandang yang dijuluki sebagai “tsunami kedua” menerjang Aceh pada 22-26 November 2025. Bencana ini melumpuhkan 18 dari 23 kabupaten/kota di Serambi Mekah.

“Di antara 23 kabupaten/kota di Aceh, 18 kabupaten/kota itu terdampak bencana yang sangat luar biasa yang harta benda mereka itu habis semuanya, contohnya di Aceh Tamiang,” kata Jamal saat ditemui tim Media Center Haji (MCH) di Makkah, Minggu (10/5) malam.

Upaya Jemput Bola

Kondisi ekonomi jemaah pascabencana sempat menjadi kendala serius. Di Aceh Tamiang, misalnya, dari sekitar 150 calon jemaah, hanya satu orang yang mampu melakukan pelunasan biaya haji pada tahap pertama.

“Tamiang itu adalah daerah yang sangat-sangat berat bencana, di sana ada jemaah haji 150 jemaah haji pada saat pelunasan pertama, ya hanya baru satu orang,” ungkap pria yang pernah menetap di Arab Saudi selama 10 tahun tersebut.

Kondisi ini direspons cepat dengan strategi “jemput bola”. Tim Kemenhaj dan perwakilan pemda turun langsung ke lapangan untuk memfasilitasi proses istita’ah kesehatan hingga koordinasi dengan pihak perbankan untuk mempermudah pelunasan.

“Kemudian kami, saya, kemudian dengan tim dari Kemenhaj ditugaskan oleh Bapak Gubernur dan Bapak Wakil Gubernur untuk menjemput bola, untuk merelokasi jemaah supaya bisa melakukan istita’ah,” kata pria yang biasa sisapa Syeikh Jamal.

Kendala Infrastruktur

Di Aceh Utara, 18 paspor jemaah dilaporkan hanyut terbawa arus banjir. Selain itu, hancurnya jaringan komunikasi dan fasilitas kesehatan di daerah terdampak memaksa petugas mengalihkan proses input data ke wilayah lain yang masih berfungsi.

“Akhirnya kami alihkan ke daerah yang ada internetnya, kemudian yang ada komunikasi telepon dan sebagainya, karena semua infrastruktur elektronik hancur,” kata Jamal.

Kerja keras tersebut juga dilakukan untuk menepis isu pengalihan kuota haji Aceh ke provinsi lain akibat kendala pelunasan di daerah bencana. “Karena pada saat itu ada isu bahwa jemaah daerah yang dampak bencana itu akan kuotanya dialihkan ke provinsi lain. Tetapi kami Aceh, ditugaskan saya oleh Bapak Gubernur itu betul-betul jemput bola,” tegasnya.

Hasilnya, kuota haji Aceh justru menjadi salah satu yang tercepat terpenuhi dan bahkan melampaui target nasional. Tahun ini, Aceh mendapatkan kuota 5.426 jemaah haji 2026 yang terbagi dalam 14 kelompok terbang (kloter).

Di balik segala hambatan teknis, Jamal mengaku paling terenyuh melihat keteguhan hati para jemaah, khususnya dari wilayah terdampak parah seperti Tamiang.

“Alhamdulillah sampai sekarang jemaah haji walaupun bagaimana yang paling menyedihkan di Tamiang. Mereka nggak ada apa-apa lagi, rumah udah nggak ada, tapi mereka tetap berhaji,” ucapnya haru.

Secara nasional, hingga Minggu (10/5), ada 323 kloter dengan total 125.243 jemaah haji telah diberangkatkan ke Tanah Suci. Dari jumlah tersebut, sebanyak 78.946 jemaah kini telah berada di Mekah. (H-4)

 



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *