Sunday, October 4

Usia 50 Tahun ke Atas, Waspadai Risiko Gangguan Irama Jantung


Ilustrasi(magnifik)

Memasuki usia 50 tahun ke atas, kesehatan jantung perlu semakin diperhatikan. Salah satu masalah yang dapat muncul adalah gangguan irama jantung atau aritmia. Kondisi ini terjadi ketika sinyal listrik yang mengatur detak jantung tidak bekerja sebagaimana mestinya, sehingga jantung dapat berdetak terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur.

Pertambahan usia menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko aritmia. Menurut National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI), perubahan pada jantung akibat proses penuaan, termasuk terbentuknya jaringan parut, dapat meningkatkan risiko gangguan irama.

Orang lanjut usia juga lebih mungkin memiliki kondisi kesehatan tertentu seperti tekanan darah tinggi, gagal jantung, diabetes, dan gangguan tiroid yang dapat berkaitan dengan aritmia.

Salah satu gangguan irama yang lebih sering ditemukan seiring bertambahnya usia adalah fibrilasi atrium atau atrial fibrillation (AFib). American Heart Association (AHA) menyebutkan bahwa kemungkinan mengalami AFib meningkat seiring usia. Kondisi tersebut terjadi ketika sinyal listrik di ruang atas jantung mengalami gangguan sehingga detak jantung menjadi tidak teratur.

Gejala yang Perlu Diperhatikan

Gangguan irama jantung tidak selalu menimbulkan gejala. Sebagian orang bahkan baru mengetahui kondisinya ketika menjalani pemeriksaan kesehatan. Namun, beberapa gejala yang dapat muncul antara lain jantung berdebar, terasa berdenyut atau berdetak tidak teratur, detak jantung terlalu cepat atau lambat, mudah lelah, pusing, lemas, sesak napas, hingga hampir atau benar-benar pingsan.

Pada AFib, gejala juga dapat berupa jantung berdebar atau berdenyut tidak beraturan, kelelahan, pusing, kelemahan, sesak napas, serta penurunan kemampuan beraktivitas. Namun, seseorang dapat mengalami AFib tanpa merasakan gejala apa pun.

Jangan Abaikan Keluhan yang Berulang

Tidak semua jantung berdebar berarti seseorang mengalami aritmia. Namun, keluhan yang berulang atau disertai pusing, sesak napas, nyeri dada, maupun pingsan sebaiknya tidak diabaikan. Pemeriksaan medis dapat membantu mengetahui apakah keluhan tersebut berkaitan dengan gangguan irama jantung atau kondisi lain.

Dokter dapat melakukan pemeriksaan, termasuk elektrokardiogram (EKG), untuk merekam aktivitas listrik jantung dan membantu mendeteksi gangguan irama. Pemeriksaan tambahan dapat dilakukan sesuai kondisi pasien.

Pada penderita AFib, kondisi tersebut juga perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah yang kemudian dapat menyebabkan stroke. Karena itu, diagnosis dan penanganan yang tepat menjadi penting, terutama pada orang yang memiliki faktor risiko lain seperti tekanan darah tinggi atau penyakit jantung.

Bagi orang berusia di atas 50 tahun, menjaga tekanan darah, tidak merokok, menjaga berat badan, rutin beraktivitas fisik, mengonsumsi makanan bergizi, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dapat membantu menjaga kesehatan jantung. Jika muncul keluhan seperti nyeri atau tekanan di dada, sesak napas berat, atau pingsan, segera cari pertolongan medis karena gejala tersebut dapat menjadi tanda kondisi darurat.

Sumber: American Heart Association



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *