Thursday, September 17

Warisan Jeffrey Epstein Digugat Lagi, Korban Tuntut Pelacakan Konten Asusila Anak


Jeffrey Epstein(AFP)

PENGELOLA aset (estate) milik mendiang Jeffrey Epstein kembali menghadapi gugatan hukum baru yang diajukan dua orang perempuan di Amerika Serikat. Kedua penggugat membeberkan Epstein menyimpan materi kekerasan dan eksploitasi seksual anak (CSAM) yang melibatkan diri mereka saat masih di bawah umur.

Melalui gugatan tersebut, para korban meminta hakim pengadilan untuk memerintahkan pembentukan program khusus guna mengidentifikasi dan memberi tahu seluruh individu yang gambarnya pernah masuk secara ilegal ke dalam koleksi Epstein, di samping menuntut ganti rugi finansial.

Gugatan tersebut didaftarkan pekan ini di Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Selatan New York. Pihak tergugat adalah mantan pengacara Epstein, Darren Indyke, dan mantan akuntannya, Richard Kahn, dalam kapasitas mereka sebagai eksekutor bersama atas aset-aset peninggalan Epstein. Tim kuasa hukum Indyke dan Kahn, yang sebelumnya menyatakan tidak mengetahui kejahatan Epstein selama bekerja dengannya, belum memberikan tanggapan resmi atas gugatan tersebut.

Dalam dokumen gugatan, Epstein, yang tewas di penjara Manhattan pada 2019 saat menunggu persidangan kasus perdagangan seks, dituduh telah memiliki, mengangkut, memproduksi, dan mendistribusikan materi asusila anak selama lebih dari dua dekade. Epstein diklaim telah mencuri foto-foto telanjang atau setengah telanjang dari penggugat pertama, yang disamarkan dengan nama “Jane Doe”, lalu membawa materi itu melintasi batas negara bagian untuk disimpan.

Jane Doe mengaku baru berusia sekitar 12 tahun ketika foto-foto dirinya diambil tanpa hak. Laporan gugatan juga menyebutkan meskipun laporan telah disampaikan kepada pihak penegak hukum pada masa itu, tidak ada tindakan nyata untuk memproses atau menyelidiki laporan tersebut.

Sementara itu, penggugat kedua yang menggunakan nama samaran “Amy” menyatakan foto-foto dirinya yang menjadi bagian dari jaringan distribusi materi asusila anak sejak akhir 1990-an diduga kuat berada di dalam koleksi yang disita dari properti Epstein.

Dokumen hukum tersebut membeberkan sejak tahun 1990-an, Epstein menyimpan sebuah “buku pemodelan” berisi foto-foto asusila anak di dalam brankas terkunci di kediamannya di New York. Memasuki tahun 2000-an, ia diduga memerintahkan asistennya untuk memotret anak-anak secara tak senonoh, membayar mereka, dan menggunakan foto-foto itu demi kepuasan seksual pribadi maupun pihak lain.

Pengacara korban, Margaret Mabie, mengungkapkan bahwa dokumen resmi mengindikasikan adanya belasan temuan dari seri foto yang dikenal seperti milik Amy dalam koleksi Epstein.

“Sepengetahuan kami, tidak ada satu pun korban yang teridentifikasi dalam laporan itu, atau dalam materi asusila anak lainnya yang ditemukan dalam koleksi Epstein, yang pernah menerima pemberitahuan,” ujar Mabie.

Kedua penggugat mengajukan gugatan ini secara pribadi sekaligus mewakili kelompok korban (class action) yang gambarnya ada dalam media yang disita dari properti milik Epstein.

Pengacara penyintas lainnya, Hillary Nappi, menegaskan fokus utama dari langkah hukum ini adalah transparansi dan pertanggungjawaban.

“Kami ingin pihak pengelola aset melestarikan dan mempertanggungjawabkan semua barang yang disita dari properti Epstein, dan kami menginginkan proses nyata yang diawasi pengadilan untuk mengidentifikasi serta memberi tahu setiap penyintas yang ada dalam koleksi tersebut,” tegas Nappi.

“Banyak dari mereka tidak tahu bahwa foto mereka ada dalam berkas Epstein. Mereka berhak untuk tahu dan berhak mendapat kesempatan menuntut keadilan,” tambahnya. (The Guardian/Z-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *