
PERDARAHAN yang terjadi di luar jadwal menstruasi kerap dianggap sebagai gangguan hormon biasa. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang perlu diperiksa, mulai dari gangguan pada organ reproduksi hingga penyakit serius, termasuk kanker pada lapisan rahim.
Perdarahan abnormal atau abnormal uterine bleeding merupakan kondisi ketika perdarahan berbeda dari pola menstruasi normal, baik dari segi frekuensi, durasi, keteraturan, maupun jumlah darah yang keluar. Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), perdarahan di antara periode menstruasi, setelah berhubungan seksual, menstruasi yang terlalu banyak, serta perdarahan setelah menopause termasuk kondisi yang perlu diperhatikan.
Berbagai Penyebab Perdarahan Tak Wajar
Perdarahan abnormal tidak selalu menandakan kanker. Ada sejumlah kondisi yang dapat memicunya, salah satunya ketidakseimbangan hormon yang memengaruhi proses ovulasi. Kondisi seperti sindrom ovarium polikistik (PCOS) dan gangguan tiroid juga dapat menyebabkan siklus menstruasi menjadi tidak teratur.
Penyebab lainnya adalah fibroid atau miom dan polip, yakni pertumbuhan jaringan yang umumnya bersifat jinak di dalam atau sekitar rahim. Adenomiosis, gangguan pembekuan darah, penggunaan kontrasepsi hormonal, serta obat-obatan tertentu juga dapat memengaruhi pola perdarahan menstruasi.
Meski demikian, perdarahan abnormal dapat menjadi salah satu gejala kanker endometrium, yaitu kanker yang berkembang pada lapisan dalam rahim. Karena penyebabnya beragam, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui kondisi yang mendasarinya.
Waspadai Perdarahan Setelah Menopause
Perempuan yang sudah mengalami menopause perlu memberi perhatian khusus jika kembali mengalami perdarahan dari vagina. Menurut National Health Service (NHS) Inggris, perdarahan setelah menopause perlu diperiksakan meskipun hanya berupa bercak kecil, terjadi satu kali, atau berwarna merah muda dan kecokelatan.
Kondisi tersebut tidak selalu disebabkan oleh kanker. Penipisan lapisan vagina atau rahim akibat perubahan hormon dan polip juga dapat menjadi penyebabnya. Namun, perdarahan setelah menopause bisa menjadi tanda kanker rahim atau, lebih jarang, kanker ovarium. Pemeriksaan sejak dini membantu tenaga kesehatan menentukan penyebab dan penanganan yang tepat.
Kapan Harus Memeriksakan Diri?
Perempuan sebaiknya berkonsultasi dengan dokter apabila mengalami perdarahan di luar jadwal menstruasi, perdarahan setelah berhubungan seksual, menstruasi yang berlangsung lebih dari tujuh hari, atau darah menstruasi yang sangat banyak hingga harus mengganti pembalut setiap satu hingga dua jam.
Jika perdarahan sangat deras disertai pusing berat, hampir pingsan, sesak napas, atau nyeri hebat, segera cari pertolongan medis. Perdarahan yang terjadi ketika menstruasi terlambat dan disertai nyeri perut juga perlu segera diperiksa karena dapat berkaitan dengan kehamilan ektopik atau kehamilan di luar rahim.
Dokter dapat menanyakan riwayat menstruasi, penggunaan obat atau kontrasepsi, serta gejala lain yang menyertai perdarahan. Pemeriksaan lanjutan, seperti tes darah, tes kehamilan, ultrasonografi, atau pemeriksaan jaringan, dapat dilakukan sesuai kebutuhan.
Mengenali perubahan pola menstruasi merupakan salah satu langkah penting dalam menjaga kesehatan reproduksi. Perdarahan yang tidak biasa tidak otomatis berarti penyakit berbahaya, tetapi juga tidak sebaiknya diabaikan. Pemeriksaan yang tepat dapat membantu menemukan penyebabnya dan menentukan penanganan sesuai kondisi masing-masing perempuan.
Sumber: NHS
