
DI tengah maraknya pembuatan teknologi asisten AI yang dapat melakukan berbagai bentuk pekerjaan, banyak yang bertanya apakah aspek manusia masih dibutuhkan. Banyak pekerja berspekulasi bahwa teknologi AI hadir untuk menggantikan manusia sepenuhnya, sehingga menimbulkan rasa kecemasan.
Dalam menanggapi tren kekhawatiran tersebut, Carlos Quaderi selaku Head of Asia Pacific (APAC) Zoom, berpendapat bahwa teknologi AI benar adanya menggeser bentuk dan sifat dari pekerjaan menjadi lebih instan dan efektif. Namun menurutnya, kehadiran koneksi serta emosi manusia akan semakin penting dibutuhkan juga.
Quaderi menilai bahwa kualitas yang menjadi penting di era teknologi AI sekarang adalah kehadiran manusia dan elemen konteks manusia.
“AI bisa meniru kita, tapi AI tidak punya kesadaran. AI itu sangat pintar dalam berpikir berdasarkan pengetahuan dan bahkan sangat pintar meniru kesadaran, tapi itu bukan kesadaran yang nyata,” ujar Quaderi mengenai alasan mengapa konteks dan elemen manusia penting dihadirkan.
Sebagai teknologi yang tidak memiliki kesadaran, AI tentunya tidak akan memiliki kualitas manusia seperti empati atau kebijaksanaan yang datang dari pengalaman nyata. Fakta tersebut menjadi alasan penting bagi manusia untuk mengawasi kinerja sebuah AI, karena AI tidak memiliki konteks emosional yang dimiliki oleh manusia pada umumnya.
Human on the loop adalah sebutan yang Quaderi gunakan dalam mendeskripsikan fenomena tersebut. Sebutan Quaderi menggambarkan manusia yang berada di atas putaran AI, karena AI hanya menghasilkan output saja, sementara manusia meninjau kembali output tersebut dan masih menjadi penentu utama akan pilihan maupun tindakan selanjutnya.
“Manusia tidak berada di dalam putaran, melainkan berada di atas putaran. Mereka meninjau kembali output untuk dikoreksi. Jadi di masa depan, kita tidak akan berfokus pada output, tetapi pada hasil,” ujar Quaderi pada Kamis pekan lalu (8/10).
AI tentunya akan terus berkembang hingga mampu melakukan proses pekerjaan pada bidang yang penting, baik itu layanan keuangan, layanan medis, dan lain-lain. Namun, keterlibatan manusia masih menjadi kunci utama untuk membangun koneksi dengan pelanggan.
“Manusia akan diletakkan dalam proses, bukan hanya di pinggir proses. AI mungkin bisa mendiagnosis kondisi medis seseorang menggunakan data, tapi apakah anda akan mempercayai AI untuk kondisi medis anda? Tidak, anda pasti ingin seorang dokter, sosok manusia yang benar-benar ada dalam proses itu untuk menentukan hasil yang anda butuhkan secara fisik,” ungkap Quaderi yang juga menekankan bahwa hanya sifat dan bentuk pekerjaan yang akan berubah, tetapi kebutuhan akan seorang manusia masih akan sama.
Hal ini menunjukkan bahwa AI tidak mampu menggantikan manusia sepenuhnya, elemen kontekstual dalam emosi dan koneksi yang unik terhadap jiwa manusia akan terus dibutuhkan pada waktu mendatang. Quaderi tidak membantah bahwa AI akan membawa pergeseran besar pada dunia kerja, namun ia yakin bahwa komunikasi antar manusia adalah suatu hal unik yang tidak akan tergantikan oleh mesin apapun.
Itulah mengapa dalam pembuatan teknologi asisten AI khusus platform Zoom, koneksi manusia masih menjadi inti dasar bagi Quaderi. Asisten AI Zoom memanfaatkan keunikan koneksi manusia, menggabungkannya dengan menyederhanakan pekerjaan bagi orang, dan menjadikan AI sebagai alat penguat inti yang mendorong produktivitas.
Asisten AI Zoom bekerja dengan sistem tindakan yang berpusat dalam percakapan antar manusia. Dengan merekam atau menganalisis percakapan seseorang dalam zoom, asisten AI mereka mampu membuat sesuatu terjadi, melanjutkan proses, atau menyelesaikannya. Komunikasi dan koneksi antar manusia masih menjadi roda utama penggerak pekerjaan.
