Tuesday, September 22

3 Orang Segera Dievakuasi dari Kapal Wabah Hantavirus, WHO Soroti Potensi Penularan


Tangkapan layar dari cuplikan Video penumpang di dalam kapal pesiar.(BBC)

TIGA orang di atas kapal ekspedisi yang dilanda wabah hantavirus dijadwalkan akan segera dievakuasi dalam beberapa jam ke depan. Otoritas kesehatan Cabo Verde menyebutkan ketiganya berada dalam kondisi klinis stabil setelah diperiksa tim medis yang naik ke kapal.

Dilansir dari laman CNN, proses evakuasi akan dilakukan menggunakan dua pesawat ambulans udara. Sementara seorang tenaga medis spesialis tambahan juga akan dikirim untuk membantu penanganan di atas kapal.

Setelah evakuasi dilakukan, kapal yang dioperasikan oleh Oceanwide Expeditions itu direncanakan melanjutkan pelayaran menuju Kepulauan Canary, Spanyol, dengan waktu tempuh sekitar tiga hari. Setibanya di sana, otoritas Spanyol akan melakukan investigasi epidemiologi menyeluruh serta proses disinfeksi total sebelum penumpang dipulangkan.

Perkembangan ini terjadi setelah World Health Organization (WHO) mengungkap kemungkinan adanya penularan antar manusia di atas kapal, meskipun dalam kondisi terbatas.

“Kami mengetahui bahwa beberapa kasus memiliki kontak yang sangat dekat, sehingga penularan antar manusia tidak bisa dikesampingkan. Sebagai langkah kehati-hatian, kami mengasumsikan hal tersebut,” ujar Direktur Kesiapsiagaan Epidemi dan Pandemi WHO, Maria Van Kerkhove.

Ia menegaskan potensi penularan tersebut kemungkinan hanya terjadi dalam kontak sangat dekat.

“Risiko bagi masyarakat umum rendah. Ini bukan virus yang menyebar seperti flu atau covid-19. Karakteristiknya sangat berbeda,” tambahnya.

WHO juga menduga penularan dapat terjadi di antara individu yang memiliki interaksi intens, seperti pasangan suami istri atau penumpang yang berbagi kabin.

“Kami percaya mungkin ada penularan antar manusia di antara kontak yang sangat dekat, seperti pasangan atau mereka yang berbagi kabin,” jelas Van Kerkhove.

Korban Bertambah, Kasus Berawal dari Perjalanan di Amerika Selatan

Hingga saat ini, tujuh kasus hantavirus telah diidentifikasi, terdiri dari dua kasus terkonfirmasi dan lima suspek. Tiga orang dilaporkan meninggal dunia, termasuk pasangan asal Belanda yang diduga telah terinfeksi sebelum naik kapal.

Seorang warga Inggris saat ini masih dirawat di unit perawatan intensif di Johannesburg, Afrika Selatan, meskipun kondisinya dilaporkan mulai membaik.

Selain itu, dua awak kapal, masing-masing warga Inggris dan Belanda mengalami gejala pernapasan akut dan memerlukan penanganan segera, meskipun belum dikonfirmasi sebagai kasus hantavirus.

Asal Wabah Masih Diselidiki, Diduga dari Paparan Lingkungan

Penyebab pasti wabah masih dalam penyelidikan. WHO menduga pasangan Belanda kemungkinan terinfeksi sebelum naik kapal, mungkin saat berada di Argentina.

Kapal ini berangkat dari Ushuaia dan melakukan perjalanan ke sejumlah wilayah terpencil, termasuk Antartika dan pulau-pulau yang menjadi habitat berbagai satwa liar.

“Ini adalah kapal ekspedisi, dan banyak penumpang melakukan aktivitas seperti pengamatan burung dan interaksi dengan satwa liar,” kata Van Kerkhove.

Ia juga menambahkan bahwa keberadaan hewan pengerat di beberapa lokasi tersebut membuka kemungkinan adanya sumber penularan dari lingkungan.

Meski situasi diklaim terkendali, sejumlah penumpang mengaku merasakan ketegangan. Salah satu penumpang, Jake Rosmarin, menyampaikan kondisi emosional yang dirasakan di atas kapal. “Apa yang terjadi saat ini sangat nyata bagi kami semua. Kami bukan sekadar cerita atau berita utama,” ujarnya.

Ia menjelaskan protokol ketat diterapkan, termasuk jaga jarak, pembatasan aktivitas di dalam ruangan, serta layanan makanan langsung ke kabin. “Oceanwide Expeditions dan kru telah melakukan segala yang mereka bisa untuk menjaga keselamatan, memberikan informasi, dan memastikan kenyamanan penumpang,” tambahnya.

Apa itu Hantavirus?

Hantavirus merupakan penyakit langka yang umumnya ditularkan melalui kontak dengan hewan pengerat. Meski jarang, tingkat kematiannya cukup tinggi, terutama jika sudah menyebabkan gangguan pernapasan serius.

Gejala awal biasanya menyerupai flu, namun dapat berkembang cepat menjadi kerusakan organ vital seperti paru-paru, jantung, dan ginjal.

Hingga kini belum ada obat spesifik, sehingga penanganan berfokus pada perawatan suportif. Dengan evakuasi yang tengah berlangsung dan pengawasan ketat dari otoritas kesehatan, diharapkan penyebaran lebih lanjut dapat dicegah. (CNN/WHO/-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *