
MEMASUKI 2026, tren kesehatan bergeser dari diet ketat yang viral menuju pola makan berkelanjutan. Para ahli gizi dan riset terbaru menyepakati bahwa diet terbaik bukanlah yang paling ekstrem, melainkan yang berbasis makanan utuh (whole foods) dan dapat dijalani dalam jangka panjang.
Berdasarkan tinjauan para ahli gizi terdaftar, terdapat empat pola makan yang dinilai paling efektif untuk kesehatan jantung, otak, dan manajemen berat badan tahun ini. Berikut adalah ulasannya:
1. Diet Mediterania: Standar Emas Kesehatan
Diet Mediterania tetap menduduki posisi puncak. Riset meta-analisis tahun 2024 terhadap lebih dari 10.000 partisipan menunjukkan diet ini secara signifikan mengurangi risiko penyakit kardiovaskular, serangan jantung, dan stroke.
Pola makan ini menekankan pada konsumsi buah, sayur, biji-bijian, dan minyak zaitun sebagai sumber lemak utama.
2. Diet DASH: Solusi Hipertensi
Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) dirancang khusus untuk menurunkan tekanan darah. Mirip dengan Mediterania, DASH lebih ketat dalam pembatasan natrium (maksimal 2.300 mg per hari) dan fokus pada protein tanpa lemak serta produk susu rendah lemak.
3. Diet MIND: Nutrisi untuk Otak
Merupakan gabungan antara Mediterania dan DASH, diet MIND difokuskan untuk mencegah penurunan kognitif. Studi tahun 2025 dalam Scientific Reports mengaitkan pola makan ini dengan pengurangan signifikan pada risiko Alzheimer.
Diet ini mewajibkan konsumsi sayuran hijau setidaknya enam porsi seminggu dan buah beri dua porsi seminggu.
4. Diet Flexitarian: Fleksibilitas Nabati
Bagi mereka yang ingin mengurangi daging tanpa menjadi vegetarian sepenuhnya, Flexitarian adalah pilihan utama. Pola ini mengutamakan makanan nabati namun tetap mengizinkan produk hewani dalam jumlah moderat. Penelitian tahun 2024 menunjukkan pola ini efektif melindungi tubuh dari resistensi insulin dan kolesterol tinggi.
Dilansir dari Yahoo Health, ahli gizi dari Consumer Health Digest, Johannah Katz, menekankan bahwa keberhasilan diet bergantung pada kualitas dan keberlanjutan. Sementara itu, Shirin Pourafshar, PhD, RD, mengingatkan bahwa diet harus dipersonalisasi karena kondisi kesehatan, obat-obatan, dan tingkat stres setiap individu berbeda-beda.
Para ahli juga memperingatkan bahwa diet populer seperti Keto mungkin memberikan hasil cepat untuk penurunan berat badan, namun sulit dipertahankan jangka panjang dan berisiko meningkatkan kolesterol LDL jika tidak diawasi dengan ketat. (Z-10)
