Wednesday, September 30

Masalah Kesehatan Mental pada Remaja, Pentingnya Mendengarkan tanpa Menghakimi


: Sejumlah pelajar berjalan menyusuri hutan saat mengikuti kegiatan terapi hutan untuk anak dan remaja di kawasan Hutan Plumbon, Ngaliyan, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (10/5/2025). Kementerian Sosial, PMI Kota Semarang, dan ChildFund International menggela(ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/YU)

SURVEI Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 menunjukkan sekitar 15,5 juta atau 34,9% remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Dekan Fakultas Psikologi UGM, Rahmat Hidayat menjelaskan ketika berbagai krisis tersebut tidak berhasil dihadapi dan terus menumpuk, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi masalah psikososial dan gangguan kesehatan mental yang lebih serius. 

Rahmat menambahkan, tumpukan persoalan psikososial yang tidak terselesaikan dapat menjadi beban yang semakin berat bagi remaja. Oleh karena itu, dukungan dari lingkungan sekitar menjadi faktor penting untuk membantu mereka melewati masa-masa sulit tersebut, salah satunya dengan mendengarkan.

Menurutnya kehadiran keluarga, teman sebaya, maupun lingkungan sekolah dan kampus yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi dapat mengurangi tekanan psikologis yang dirasakan remaja. 

“Stres itu tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah stres yang berlebihan dan berkepanjangan sehingga melewati daya tahan tubuh fisik kita maupun psikologis kita. Kalau tanpa stres, orang tidak akan pernah berkembang,” katanya.

Rahmat mengatakan, orang tua perlu menunjukkan empati sekaligus kesiapan untuk mendampingi ketika anak membutuhkan bantuan. Kehadiran orang tua tidak selalu diwujudkan melalui banyak pertanyaan, melainkan melalui sikap yang membuat anak merasa aman untuk bercerita. 

“Orangtua yang tepat adalah memberikan ruang bagi anak untuk mengalami, tetapi juga menunjukkan bahwa anytime kalau diperlukan siap mendukung dan tidak menghakimi,” papar dia.

Di sisi lain, orangtua juga perlu mengenali ketika perubahan perilaku anak sudah melewati batas kewajaran. Misalnya, ketika anak terus mengurung diri di kamar selama beberapa hari, kehilangan minat beraktivitas, atau menunjukkan perubahan perilaku yang drastis.

Rahmat melihat rendahnya literasi kesehatan mental turut menyebabkan banyak kasus tidak terdeteksi sejak dini. Ia bersyukur dalam beberapa tahun terakhir pemahaman masyarakat mengenai kesehatan mental mulai meningkat sehingga individu yang mengalami masalah lebih berani mencari pertolongan.

“Literasi terhadap kesehatan mental belakangan ini sudah mulai membaik. Yang mengalami masalah kesehatan mental sudah paham kapan membutuhkan bantuan dan kepada siapa harus meminta bantuan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak lagi memandang gangguan kesehatan mental sebagai stigma. Gangguan kesehatan mental merupakan persoalan kesehatan yang sama pentingnya dengan gangguan kesehatan fisik sehingga membutuhkan penanganan yang tepat.

Rahmat berpesan agar remaja tidak merasa malu ketika mengalami gangguan kesehatan mental.  Menerima kondisi yang sedang dialami merupakan langkah awal untuk memperoleh penanganan yang tepat.

“Jadi sikap yang baik adalah menerima bahwa saya memang sedang mengalami masalah kesehatan mental dan tidak perlu malu untuk meminta bantuan,” terang dia.

Dengan mengatasi masalah kesehatan mental dengan baik, remaja akan menjalani proses pertumbuhan pribadi menjadi sosok yang matang, secara psikologis capable, dan siap menjalankan semua peran kehidupan yang ada.  (H-4)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *