Monday, September 28

Gapura Warga Bandung, Yogyakarta, dan Malang Raih Juara Lomba Hias


Lomba menghias gapura memperlihatkan bagaimana proses pengerjaan sebuah karya dapat menjadi ruang bagi warga untuk berkolaborasi.(Dok. SariWangi)

KREATIVITAS warga dalam mengolah ruang lingkungan menjadi salah satu daya tarik dalam Lomba Hias Gapura yang digelar sebagai bagian dari rangkaian Waktunya Ngeteh Indonesia. Setelah menerima sekitar 500 karya dari berbagai daerah, penyelenggara menetapkan tiga pemenang utama berdasarkan kreativitas, semangat gotong royong, dan kearifan lokal yang ditampilkan melalui desain gapura.

Gapura karya warga Bandung ditetapkan sebagai juara pertama, diikuti karya warga Yogyakarta sebagai juara kedua dan warga Malang sebagai juara ketiga. Ketiganya menawarkan pendekatan berbeda, mulai dari mural yang menceritakan kehidupan warga, penggunaan bambu sebagai material utama, hingga perpaduan figur Garuda dan teknologi LED.

Karya warga Bandung dinilai menonjol karena tidak berhenti pada dekorasi gapura. Warga menambahkan mural di sepanjang tembok gang yang menggambarkan kehidupan sehari-hari, termasuk aktivitas saling membantu dan menjaga lingkungan.

“Ide gapura ini muncul waktu kami membicarakan bagaimana caranya membuat 17-an tahun ini berbeda dari biasanya. Selain gapura, kami juga ingin membuat sesuatu yang lebih tahan lama, jadi kami sepakat bikin mural di sepanjang tembok gang yang menceritakan kehidupan sehari-hari warga di sini, bagaimana kami saling bantu dan jaga lingkungan bareng-bareng ditemani dengan teh SariWangi. Semua ini bisa diwujudkan karena gotong royong warga, semua turun tangan bantu sesuai kemampuan masing-masing. Bagi saya kemenangan ini jadi pengingat soal semangat kebersamaan warga disini,” ujar Samsul Huda M, pemenang pertama Lomba Gapura Waktunya Ngeteh Indonesia dari Bandung.

Sementara itu, karya warga Yogyakarta yang meraih juara kedua menggunakan bambu sebagai material utama. Desain tersebut dipadukan dengan simbol secangkir teh yang dimaknai sebagai representasi kehangatan dan kebersamaan.

“Kami memilih secangkir teh sebagai simbol kehangatan, karena minum teh itu sederhana tapi sering jadi awal untuk berkumpul antar warga. Kami juga menggunakan bambu sebagai material utama, satu batang mungkin terlihat biasa, tapi kalau disatukan jadi kuat, seperti warga disini. Gapura ini bukan cuma soal pintu masuk yang indah, tapi cerita bagaimana sesuatu yang sederhana bisa jadi luar biasa kalau dikerjakan bersama,” ujar Muh Rohmadi, pemenang kedua Lomba Gapura Waktunya Ngeteh Indonesia dari Yogyakarta.

Adapun warga Malang meraih juara ketiga melalui gapura yang menghadirkan figur Garuda bersayap lebar. Desain tersebut dilengkapi papan LED berjalan yang menampilkan pesan-pesan perayaan HUT RI, sekaligus memadukan unsur simbolik dengan teknologi.

“Kami ingin gapura ini terlihat beda, makanya kami coba memadukan figur burung Garuda yang cukup besar dengan tulisan LED berjalan. Ini menandakan hasil kerja keras warga, semua dikerjakan bersama-sama,” ujar Didik, pemenang ketiga Lomba Gapura Waktunya Ngeteh Indonesia dari Malang.

Brand Manager SariWangi, Irene Limantara, mengatakan lomba tersebut memperlihatkan bagaimana proses pengerjaan sebuah karya dapat menjadi ruang bagi warga untuk berkolaborasi.

“Bagi SariWangi, lomba hias gapura adalah salah satu simbol kegiatan yang memperlihatkan nilai karakter kekuatan masyarakat Indonesia yaitu gotong royong dan kebersamaan. Kami bangga melihat betapa antusiasnya warga dari berbagai daerah, mereka bersatu, berkumpul bersama, bertukar pikiran dan bekerja sama mewujudkan gapura yang mempresentasi warganya. Inilah semangat yang ingin terus dihadirkan oleh SariWangi yakni menemani seluruh momen kebersamaan masyarakat Indonesia. Selamat kepada seluruh pemenang,” ujar Irene.

Lomba tersebut diikuti sekitar 500 karya dari berbagai daerah. Dari jumlah tersebut, 178 perumahan atau lingkungan terpilih mendapatkan dukungan khusus untuk memeriahkan rangkaian kegiatan yang berlangsung pada momentum HUT ke-81 Republik Indonesia.

Selain tiga pemenang utama, terdapat lima pemenang favorit yang berasal dari Palembang, Makassar, Samarinda, Jakarta, dan Bandung. Sementara kategori Most Likes diberikan kepada lima karya dari Bandung sebanyak dua pemenang, serta masing-masing dari Banjarmasin, Jakarta, dan Malang.

Pengumuman pemenang ini menjadi bagian penutup rangkaian Waktunya Ngeteh Indonesia yang sebelumnya juga menghadirkan video mengenai tradisi perayaan kemerdekaan di berbagai daerah, kegiatan bersama mitra petani, serta Pesta Rakyat SariWangi di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). (E-1)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *