
PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum mendistribusikan aluminium ke pasar domestik sebesar 137,5 ribu ton pada Januari-Juli 2026, atau sebesar 35% dari total pasar dalam negeri. Secara keseluruhan, pasar aluminium domestik mencapai 387,8 ribu ton hingga Juli 2026, dan impor aluminium berkontribusi sebanyak 250,3 ribu ton, atau sebesar 65% dari pasar yang beredar di Indonesia.
Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial Inalum Arif Haendra mengatakan, kebutuhan pasar aluminium dalam negeri sangat kecil. Kebutuhan aluminium per kapita di Indonesia hanya 1,5 kg per kapita tahun.
Hal serupa, kata Arif, justru berbeda dengan konsumsi aluminium di tingkat global. Misalnya, Tiongkok membutuhkan aluminium sebesar 24-26 kg per kapita per tahun. Dengan kata lain, kondisi tersebut menyebabkan harga aluminium primer naik di pasar internasional, dan cenderung melemahkan daya beli masyarakat terhadap produk berbahan aluminium.
“Dengan harga aluminium naik (global), maka harga profil (jenis aluminium) dan sebagainya naik, jauh lebih mahal dari harga kayu, plastik, dan sebagainya. Oleh karena itu, orang yang semula sudah substitusi berpindah ke aluminium menjadi balik lagi. Bahan bangunannya balik ke kayu, karena kayu jauh lebih murah. Ini masalah pada saat kita mau shifting ke aluminium, harga aluminium tinggi,” kata Arif dalam acara Big Downstream Insight 2026 di Jakarta, Selasa (6/10).
Masalah tersebut, kata Arif, menyebabkan Inalum kesulitan untuk meningkatkan kebutuhan aluminium di pasar domestik. Di sisi lain, kenaikan harga juga mengakibatkan penurunan daya beli pasar ekspor. Hal itu pun semakin diperburuk dengan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
“Pada saat harga mulai membaik, ternyata Amerika mengebom Iran lagi. Harga balik (naik) lagi. Volatilitas pasar yang seperti ini bagi dunia usaha tidak nyaman,” ujar Arif.
Kondisi tersebut, tambah Arif, menyebabkan Inalum memilih untuk berhati-hati dalam mengembangkan industri aluminium dalam negeri. Padahal, investasi untuk membangun smelter sangat dibutuhkan untuk mengejar target produksi aluminium nasional hingga 14,5 juta metrik ton pada 2030.
“Kita tidak bisa membuat prediksi harga dengan akurat. Menyebabkan kinerja kita tidak bisa melakukan prediksi jangka panjang untuk investasi. Investasinya tidak kecil, smelter itu US$ 2,7 miliar, Rp 46 triliun. Bangun sekarang atau menunggu situasi ini. Bisa-bisa pada saat 2030 masih shortage kita akan kehilangan kesempatan, atau 2030 itu akan banjir (produksi). Tidak ada yang bisa memprediksi itu,” ujarnya.
