Friday, October 16

Tiga Anak dan Satu Guru Tewas dalam Penembakan di Sekolah Oregon


Konferensi pers kepolisian usi insiden penembakan di SD Oregon(BBC)

PIHAK berwenang terus memberikan perkembangan terbaru terkait insiden penembakan tragis yang mengguncang Sekolah Dasar Silver Rail di Bend, Oregon pada Kamis (15/10) waktu setempat. Dalam pernyataan pers terbaru Kepala Kepolisian setempat, Mike Krantz, mengonfirmasi jumlah korban tewas yang mencakup tiga anak-anak dan seorang guru.

Menanggapi pertanyaan awak media mengenai detail persenjataan yang digunakan pelaku, Krantz mengungkapkan bahwa penembakan tersebut melibatkan “senjata laras panjang”. Kendati demikian, pihak kepolisian belum dapat membeberkan jenis spesifik senjata yang dibawa oleh pelaku demi menjaga integritas investigasi yang sedang berjalan.

Hingga saat ini, kepolisian juga masih mendalami motif serta menyelidiki apakah pelaku yang berusia 16 tahun tersebut memiliki keterkaitan atau mengenal korban di lingkungan sekolah. Penyelidikan intensif terus dilakukan untuk menguak seluruh fakta di balik tragedi kelam ini.

Berdasarkan informasi dari pihak kepolisian serta sejumlah laporan media, insiden, aparat penegak hukum mengonfirmasi bahwa pelaku penembakan sendiri telah tewas di lokasi kejadian setelah ditembak.

Sheila Miller selaku juru bicara Departemen Kepolisian Bend menjelaskan bahwa petugas awalnya merespons panggilan darurat terkait penembakan ke dalam sebuah mobil, sebelum akhirnya menerima serangkaian panggilan panik mengenai adanya pelaku aktif di dalam lingkungan sekolah. 

Aparat kepolisian tiba di lokasi hanya dalam hitungan menit setelah panggilan pertama masuk pada pukul 13.00 waktu setempat atau pukul 2000 GMT, dan langsung menerima laporan melalui saluran radio bahwa pelaku telah berhasil dilumpuhkan. Kendati demikian, pihak kepolisian belum dapat memastikan siapa pihak yang menembak mati tersangka, dan membuka kemungkinan bahwa tindakan tersebut dilakukan oleh seorang warga sipil di sekitar lokasi.

Suasana tegang dan penuh kecemasan tampak di area penantian para orangtua yang dipusatkan di dekat sebuah gereja. Salah seorang orang tua murid, Drew Sharp, mengungkapkan kepada CBS News bahwa dirinya tetap berupaya tenang sambil menunggu kepastian putranya yang duduk di kelas lima. 

(BBC/P-4)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *