
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan program Sekolah Rakyat merupakan instrumen strategis dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul guna menyongsong puncak bonus demografi. Program yang telah berjalan satu tahun ini dinilai krusial untuk memutus rantai kemiskinan melalui intervensi pendidikan sejak dini.
Kepala BRIN, Arif Satria, menyatakan bahwa Sekolah Rakyat memiliki peran vital karena menjangkau lapisan masyarakat yang selama ini terabaikan oleh kebijakan pendidikan konvensional.
“Sekolah Rakyat ini sangat strategis karena menyasar kelompok masyarakat yang selama ini belum banyak terjangkau. Cara terbaik mengatasi kemiskinan adalah melalui pendidikan dan penguatan gizi,” tegas Arif Satria.
Fokus pada Kelompok Paling Rentan
Arif memaparkan pemetaan siswa di Indonesia ke dalam empat kuadran berdasarkan kemampuan akademik dan kondisi ekonomi. Ia menyoroti kelompok paling rentan, yakni siswa dengan kondisi ekonomi rendah sekaligus prestasi akademik rendah, yang selama ini minim intervensi.
Menurutnya, jika kelompok ini tidak mendapatkan penanganan khusus, mereka berpotensi menjadi beban pembangunan di masa depan. Sekolah Rakyat hadir untuk mengisi celah tersebut dengan pendekatan pendidikan yang lebih inklusif dan terarah.
“Kelompok ini selama ini belum banyak tersentuh, padahal kalau tidak ditangani bisa menjadi tantangan pembangunan ke depan,” imbuhnya.
Dukungan Riset dan Pemetaan Bakat
Sebagai bentuk komitmen, BRIN akan memberikan dukungan teknis berupa talent mapping (pemetaan bakat) sejak dini bagi siswa Sekolah Rakyat. Langkah ini bertujuan agar pembinaan talenta, termasuk di bidang riset dan inovasi, dapat dilakukan secara presisi sesuai potensi masing-masing anak.
Selain itu, BRIN tengah menginisiasi riset mendalam untuk mengukur efektivitas program terhadap pembangunan modal manusia (human capital) dan pengentasan kemiskinan di Indonesia.
“Sekarang kami sedang menyiapkan riset untuk melihat dampak Sekolah Rakyat terhadap human capital dan pengurangan kemiskinan. Jadi nanti ada bukti saintifik mengenai dampak nyata program ini,” pungkas Arif. (Z-10)
