Tuesday, September 22

Harga BBM Nonsubsidi Naik, Ribuan Nelayan di Pati Unjuk Rasa


Aksi unjuk rasa ribuan nelayan menuntut kenaikan harga BBM nonsubsidi dan meminta harga khusus untuk nelayan.(Akhmad Safuan/MI)

RIBUAN nelayan di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menggelar aksi unjuk rasa di Alun-alun depan Kantor Bupati Pati memprotes kenaikan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.

Mereka datang menggunakan kendaraan truk dan sepeda motor, memadati depan pendopo yang dijaga ketat aparat kepolisian yang sudah ada sejak pukul 07.00 WIB. 

“Kenaikan BBM nonsubsidi ini mengakibatkan nelayan menghentikan aktivitas, karena tidak sebanding dengan pendapatan hasil tangkap,” ujar Kasdi, seorang pendemo dari Juwana, Pati.

Hal serupa juga diungkapkan Subar, seorang nelayan di Pati. Ia mengungkapkan operasional kapal para nelayan pada umumnya menggunakan BBM nonsubsidi sehingga kenaikan BBM ini cukup memukul hingga terpaksa menghentikan kegiatan mencari ikan dan melumpuhkan sektor perikanan.

Ketua Paguyuban Mitra Nelayan Sejahtera Eko Budiono mengatakan ada sekitar 10 ribu nelayan merupakan gabungan Asosiasi Mina Santosa dan Mitra Nelayan Sejahtera yang  turun ke jalan melakukan aksi unjuk rasa memprotes tingginya harga BBM nonsubsidi.

Eko Budiono mengungkapkan akibat kenaikan harga BBM nonsubsidi, sekitar 80 persen kapal nelayan khususnya di wilayah Juwana saat ini bersandar di pelabuhan dan tidak lagi beroperasi, harga BBM industri yang meroket tajam yakni mencapai kisaran Rp26.000 hingga Rp30.000 per liter. 

Menurut Eko Budiono tersedotnya biaya operasional melaut hingga 70 persen untuk pembelian BBM nonsubsidi membuat nelayan sudah tidak sanggup lagi menanggung beban tersebut, sehingga  mendesak kepada pemerintah mengeluarkan kebijakan harga BBM khusus sektor perikanan agar tetap dapat hidup.

Selama ini, ungkap Eko Budiono, kapal nelayan di atas 30 Gross Ton (GT) diwajibkan menggunakan BBM industri murni tanpa subsidi, sehingga lonjakan harga yang terjadi membuat nelayan tercekik, sehingga melalui unjukrasa ini mengajukan sejumlah tuntutan yakni agar pemerintah menetapkan harga khusus untuk sektor perikanan Rp10.000 hingga maksimal Rp13.600 per liter.

“Dampak belayan menghentikan operasional, aktivitas di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan pasar-pasar kini mulai sepi pasokan ikan, kondisi di lapangan saat ini sangat memprihatinkan,” tambahnya.

Sementara itu Kepala Polresta Pati Kombes Jaka Wahyudi sebelumnya mengungkapkan untuk mengamankan jalannya aksi unjuk rasa. Terdapat 1.456 petugas merupakan gabungan dari sejumlah polres di sekitar Pati seperti Kudus, Rembang, Blora dan Grobogan serta prajurit TNI. “Kita minta aksi unjukrasa nelayan untuk menyampaikan aspirasinya dapat berjalan lancar dan tertib, kami tetap mengedepankan langkah persuasif dan seluruh petugas dilarang membawa senjata api,” kata Jaka Wahyudi. (H-4)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *