Tuesday, September 22

AS Kirim Pesan Privat ke Iran sebelum Operasi Baru di Selat Hormuz


Ilustrasi.(Magnific)

KETEGANGAN di Selat Hormuz memasuki babak baru setelah pemerintahan Donald Trump meluncurkan operasi militer bertajuk Project Freedom. Operasi ini bertujuan untuk mengawal kapal-kapal komersial melewati jalur vital tersebut, meskipun Iran meresponsnya dengan serangkaian serangan udara dan laut.

Seorang pejabat tinggi pemerintahan Trump dilaporkan telah mengirimkan pesan rahasia kepada Teheran pada Minggu (3/5). Pesan tersebut berisi pemberitahuan mengenai operasi AS dan peringatan keras agar Iran tidak melakukan intervensi. Langkah ini dinilai sebagai upaya Gedung Putih untuk memitigasi risiko eskalasi yang lebih luas.

Serangan Iran dan Status Gencatan Senjata

Terlepas dari peringatan tersebut, Iran melancarkan serangan terhadap kapal Angkatan Laut AS, kapal komersial, dan target di Emirat Arab pada hari Senin. Namun, Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine mencoba meredam kekhawatiran publik.

Dalam konferensi pers, Selasa (5/5), Jenderal Caine mengklaim bahwa serangan Iran masih berada di bawah ambang batas untuk memulai kembali operasi tempur besar. Hegseth menambahkan bahwa saat ini gencatan senjata masih bertahan, meskipun AS telah mengantisipasi ada gejolak di awal operasi.

Kondisi Terkini: Kementerian Pertahanan Emirat Arab melaporkan bahwa Iran meluncurkan serangan rudal dan drone baru pada Selasa yang berhasil dihalau oleh sistem pertahanan udara mereka.

Dilema Logistik di Selat Hormuz

Meskipun AS mengeklaim operasi ini bertujuan membuka jalur perdagangan, data dari Centcom menunjukkan hasil yang minim dalam 24 jam pertama. Hanya dua kapal berbendera AS yang berhasil melintas pada Senin dan tidak ada satu pun pada Selasa.

Hegseth mengeklaim ada ratusan kapal yang sedang mengantre, tetapi banyak perusahaan pelayaran internasional yang dilaporkan belum mempercayai jaminan keamanan dari pemerintah AS. Hal ini berdampak langsung pada distribusi minyak dunia, mengingat Selat Hormuz adalah jalur bagi 20 persen pasokan minyak global.

Diplomasi di Balik Layar

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa negosiasi dengan AS yang dimediasi oleh Pakistan sedang mengalami kemajuan. Ia mendesak pemerintahan Trump untuk tidak terjebak dalam prahara yang diciptakan oleh pihak-pihak yang menginginkan konflik.

Namun, para pejabat di AS dan Israel tetap waspada. Jika kebuntuan diplomatik ini terus berlanjut, muncul kekhawatiran bahwa Presiden Trump dapat memberikan perintah untuk melanjutkan perang secara penuh pada akhir pekan ini. Saat ini, militer AS dilaporkan dalam posisi siap tempur jika perintah tersebut turun.







Pihak Posisi Resmi
Amerika Serikat Menjalankan Project Freedom untuk mengawal navigasi dunia.
Iran Mengeklaim telah menciptakan persamaan baru melalui aksi balasan.
Emirat Arab Menjadi target serangan drone dan rudal Iran.

Hingga saat ini, situasi di kawasan tersebut tetap cair. Dunia internasional kini menanti apakah jalur diplomasi melalui Pakistan mampu meredam ketegangan sebelum eskalasi militer yang lebih besar benar-benar terjadi. (Axios/I-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *