Tuesday, September 22

Kemendikdasmen Latih 5.777 Guru untuk Pembelajaran Bahasa Inggris di Kelas III SD


Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Nunuk Suryani,(Dok Istimewa)

BERDASARKAN hasil pemeringkatan Education First English Proficiency Index 2024, tingkat kecakapan berbahasa Inggris di Indonesia masih tergolong rendah. Dari total sekitar 150 ribu SD di Indonesia, lebih dari 90 ribu atau sekitar 60% sekolah belum memiliki guru dengan latar belakang bahasa Inggris. Sementara itu, 60 ribu sekolah lainnya telah memiliki guru dengan latar belakang bahasa Inggris yang siap mendukung pembelajaran di kelas. 

Untuk itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meluncurkan Program Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI) sebagai upaya peningkatan kompetensi berbahasa Inggris untuk guru jenjang SD.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Nunuk Suryani, menjelaskan bahwa program pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan kemampuan pedagogi guru dalam mengajar bahasa Inggris, khususnya guru SD sesuai dengan karakteristik pembelajaran SD.

“Kemendikasmen memutuskan akan menjadikan bahasa Inggris mata pelajaran wajib di tingkat SD  mulai 2027/2028 dimulai dari kelas III SD. Untuk itu kesiapan dan penguatan kompetensi guru menjadi langkah yang sangat penting,” ungkapnya dalam Peluncuran Program Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI), Jumat (8/5). 

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang secara bertahap, praktis dan aplikatif, dengan pendekatan pembelajaran yang mudah dipahami dan langsung dapat diterapkan di kelas. Program ini juga dilaksanakan melalui koordinasi pembelajaran daring, luring, dan pendampingan komunitas belajar guru agar proses belajar dapat berlangsung lebih berkelanjutan. 

“Pada tahap pertama, ada 5.777 guru dari 34 provinsi dan 177 kabupaten/kota siap mengikuti pelatihan. Program ini akan terus diperluas secara bertahap untuk mendukung kebutuhan guru di berbagai daerah di Indonesia,” kata Nunuk. 

Program pelatihan ini akan mulai mendukung implementasi pembelajaran bahasa Inggris di SD mulai tahun ajaran 2026/2027. Di tahap ini 58.896 sekolah akan mulai menerapkan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib kelas III SD. 

“Harapan kami 30 persen dari 150 ribu sekolah sudah menerapkan di tahun ajaran baru nanti. Tiga tahun mendatang harapannya semua sekolah siap menerapkan bahasa Inggris di kelas III SD. Dengan target 90.446 guru, pelatihan akan dilakukan secara bertahap setiap tahun. Pada tahun ini kita menargetkan 10 ribu peserta, 2027 dan 2028 untuk 30 ribu peserta, dan 2029 kita akan melatih 20.447 peserta,” ujarnya. 

Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk menyiapkan guru kelas SD agar memiliki kemahiran berbahasa dan kemampuan pedagogi yang memadai, sebelum kebijakannya akan diterapkan secara penuh pada 2027. 

“Saya ingin menekankan agar bahasa Inggris jangan hanya berhenti sebagai mata pelajaran. Karena sampai kiamat pun tidak akan menjadikan anak didik kita mahir berbahasa Inggris. Sebagai analogi, bahasa daerah dari tahun ke tahun kita tekankan untuk terus dilestarikan. Tapi bahasa daerah tidak pernah dilaksanakan dan digunakan. Maka bahasa daerah semakin hari bukan semakin banyak penuturnya, malah semakin banyak menyusut. Maka hal yang sama juga akan berlaku untuk bahasa Inggris ini,” pungkasnya. (H-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *