
SEJUMLAH perusahaan di Amerika Serikat bersiap menerima pengembalian dana (refund) atas tarif impor era Presiden Donald Trump yang sebelumnya dinyatakan inkonstitusional oleh Mahkamah Agung. Namun, proses ini memicu gelombang hukum baru ketika para konsumen mulai melayangkan gugatan untuk mendapatkan bagian dari uang tersebut.
Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (US Customs and Border Protection) menginformasikan bahwa proses pengembalian dana akan dimulai paling cepat pada Selasa pekan ini bagi perusahaan yang telah mengajukan permohonan. Meski demikian, lembaga tersebut belum memberikan komentar resmi mengenai kelancaran proses pembayaran tersebut.
Nike Menjadi Target Gugatan Terbaru
Persoalan ini menjadi rumit karena konsumen merasa merekalah yang menanggung beban tarif tersebut melalui kenaikan harga barang dan jasa. Nike menjadi target terbaru dalam sengketa hukum ini. Sejumlah pelanggan mengajukan gugatan terhadap raksasa perlengkapan olahraga tersebut di Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Oregon.
Gugatan tersebut mewakili tujuh orang yang membeli produk Nike yang terdampak tarif yang dibatalkan Mahkamah Agung pada Februari lalu. Meskipun tahun lalu Nike memproyeksikan kerugian hingga US$1 miliar akibat tarif tersebut, gugatan menuduh perusahaan menutupi kerugian dengan menaikkan harga sepatu dan pakaian olahraga.
Poin Gugatan: “Nike berpotensi menerima pembayaran tarif yang sama sebanyak dua kali yakni sekali dari konsumen melalui harga yang lebih tinggi dan sekali lagi dari pemerintah federal melalui pengembalian dana tarif,” demikian bunyi dokumen gugatan tersebut.
Costco, FedEx, dan UPS Turut Terseret
Selain Nike, perusahaan ritel raksasa Costco juga menghadapi gugatan serupa sejak Maret lalu. Seorang pelanggan menuduh Costco akan mendapatkan keuntungan ganda jika tidak membagikan hasil refund tersebut kepada para anggotanya.
Menanggapi hal ini, CEO Costco Ron Vachris menyatakan bahwa perusahaan berkomitmen untuk meneruskan setiap pengembalian dana yang diterima dari pemerintah federal kepada pelanggan dalam bentuk harga yang lebih rendah dan nilai yang lebih baik bagi anggota.
Sektor logistik juga tidak luput dari tekanan. FedEx dan UPS, yang menagih biaya tarif kepada pelanggan untuk pengiriman menuju AS, menghadapi gugatan yang menuntut pengembalian dana tarif beserta biaya broker (brokerage fees). Dalam beberapa kasus, biaya broker ini dilaporkan hampir setara dengan nilai tarif itu sendiri.
Berbeda dengan sikap diam beberapa perusahaan lain, FedEx dan UPS menyatakan secara terbuka bahwa mereka akan mengembalikan pembayaran tarif kepada pelanggan segera setelah pemerintah mencairkan dana refund tersebut. Fenomena ini menandai babak baru ketidakpastian ekonomi pascakebijakan perdagangan kontroversial di Amerika Serikat. (Business Insider/I-2)
