Tuesday, September 22

Cara Vicky Shu Lawan Mom Shaming dan Obesitas dengan Pendekatan Medis


Vicky Shu(MI/HO)

TEKANAN terhadap penampilan fisik masih menjadi tantangan besar bagi figur publik perempuan, terutama pascapersalinan. Fenomena body shaming hingga tuntutan untuk segera kembali ke bentuk tubuh ideal sering kali menjadi beban tambahan bagi para ibu baru.

Hal ini dialami langsung oleh penyanyi sekaligus entrepreneur, Vicky Shu. Setelah melahirkan anak keduanya, ia mengaku sempat menjadi sasaran mom shaming di media sosial akibat kenaikan berat badan. Namun, alih-alih menyerah pada standar kecantikan semu, Vicky memilih fokus pada investasi kesehatan jangka panjang.

Transformasi Medis, Bukan Operasi

Perubahan penampilan Vicky belakangan ini sempat memicu spekulasi publik yang menduga dirinya menjalani prosedur operasi potong lambung. Menanggapi hal tersebut, Vicky menegaskan bahwa transformasinya merupakan hasil dari program manajemen berat badan berbasis medis.

Vicky mengikuti program Halofit dari Halodoc selama delapan minggu. Program ini mengedepankan pengawasan dokter dan pendekatan ilmiah, bukan sekadar penurunan angka di timbangan.

“Aku memilih program Halofit karena aku ingin investasi jangka panjang untuk kesehatan fisik dan mentalku, bukan semata karena ingin menurunkan berat badan saja,” ujar Vicky dalam keterangan resmi, Selasa (12/5/2026).

Selama program, Vicky mendapatkan pendampingan intensif yang meliputi:

  • Konsultasi rutin dengan dokter spesialis.
  • Meal plan (rencana makan) yang dipersonalisasi sesuai kebutuhan tubuh.
  • Terapi GLP-1 untuk membantu mengontrol nafsu makan (berdasarkan indikasi medis).
  • Penerapan pola hidup sehat seperti rutin berjalan kaki.

Urgensi Penanganan Obesitas di Indonesia

Kasus yang dialami Vicky Shu membuka mata publik bahwa obesitas bukan sekadar masalah disiplin pola makan, melainkan kondisi kompleks yang dipengaruhi faktor hormonal, genetik, hingga metabolik. Data menunjukkan bahwa Indonesia tengah menghadapi tantangan serius terkait berat badan berlebih.







Indikator Data / Statistik
Prevalensi Obesitas Sentral (Kemenkes 2025) 1 dari 3 orang Indonesia
Konsultasi Medis Obesitas (ACTION APAC 2022) Hanya 43% individu yang berkonsultasi ke tenaga medis
Risiko Kesehatan Diabetes, Hipertensi, dan Gangguan Metabolik

VP Consultation & Diagnostics Halodoc, Ignasius Hasim, menjelaskan bahwa layanan Halofit hadir untuk memberikan solusi menyeluruh. “Kami menggabungkan edukasi, pendampingan dokter dan ahli gizi, teknologi, serta terapi medis berbasis bukti ilmiah,” ungkapnya.

Teknologi untuk Kesehatan Personal

Melalui aplikasi Halodoc, masyarakat kini dapat mengakses layanan digital clinic yang terintegrasi. Program Halofit sendiri diawasi oleh Board of Wellness yang terdiri dari dokter spesialis endokrin dan gizi klinis untuk memastikan keamanan pasien.

Salah satu inovasi yang digunakan adalah terapi GLP-1. Terapi ini bekerja meniru hormon alami usus untuk mengatur rasa kenyang dan gula darah. Namun, Halodoc menekankan bahwa ini bukan solusi instan dan wajib melalui asesmen medis yang ketat.

Selain fokus pada berat badan, Halodoc juga memperluas layanan personalisasinya melalui Haloskin untuk kesehatan kulit dan HaloIntima untuk kesehatan intim, guna menciptakan ekosistem kesehatan digital yang lengkap bagi masyarakat Indonesia.

Bagi Vicky Shu, perjalanan ini adalah pesan bagi perempuan lain.

“Tujuan sebenarnya bukan hanya menurunkan berat badan, tapi justru memiliki tubuh yang sehat tanpa harus memenuhi standar kecantikan orang lain,” pungkasnya. (Z-1)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *