
DANA Moneter Internasional (IMF) mengeluarkan peringatan serius pada Kamis (14/5) bahwa gangguan berkelanjutan akibat perang Iran telah mendorong prospek ekonomi global menuju skenario buruk (adverse scenario). Kondisi ini ditandai dengan pemangkasan angka pertumbuhan dan meningkatnya risiko inflasi yang signifikan.
Bulan lalu, dalam laporan World Economic Outlook, lembaga pemberi pinjaman multilateral tersebut memprediksi pertumbuhan global akan turun menjadi 3,1 persen pada 2026 dalam skenario referensi. Namun, IMF memperingatkan prospek yang jauh lebih suram jika konflik bersenjata terus berlarut.
Skenario Buruk: Pertumbuhan Melambat ke 2,5%
Dalam skenario buruk tersebut, saat harga minyak tetap tinggi dalam jangka waktu lama, ekspektasi inflasi menjadi kurang stabil, dan kondisi keuangan mengetat, pertumbuhan ekonomi dunia diprediksi akan melambat hingga ke angka 2,5 persen.
“Kami sedang bergerak menuju skenario buruk tersebut, meskipun ekspektasi inflasi saat ini masih cukup terkendali dan kondisi keuangan tetap akomodatif,” ujar juru bicara utama IMF, Julie Kozack, kepada wartawan di Washington.
IMF bahkan menyiapkan skenario parah (severe scenario), yaitu pertumbuhan global bisa merosot hingga 2,0 persen sementara inflasi melonjak tajam hingga menyentuh angka enam persen. Pembaruan data World Economic Outlook dijadwalkan akan dirilis pada Juli mendatang.
Perang yang melibatkan AS-Israel dan Iran melumpuhkan Timur Tengah. Tindakan balasan Teheran yang memblokade Selat Hormuz–jalur bagi seperlima pasokan minyak dan gas global–menyebabkan harga energi meroket di seluruh dunia.
Krisis Pangan dan Bantuan Finansial
Selain sektor energi, Kozack memperingatkan risiko serius terhadap ketahanan pangan global. Blokade tersebut menghentikan sepertiga pasokan pupuk dunia, yang berdampak langsung pada produktivitas pertanian.
“Kita tahu dari sejarah bahwa ketika harga pupuk naik, dibutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk diterjemahkan menjadi kenaikan harga pangan, penurunan hasil panen, dan masalah ketahanan pangan,” jelas Kozack.
Menanggapi krisis ini, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyatakan bahwa sebanyak 12 negara mungkin memerlukan bantuan keuangan dari dana tersebut, dengan total kebutuhan mencapai US$20 miliar hingga US$50 miliar.
IMF saat ini sedang dalam diskusi aktif dengan negara-negara anggota mengenai kebutuhan dukungan kebijakan dan bantuan finansial, meskipun pihak Fund belum bersedia mengungkapkan negara mana saja yang terlibat dalam pembicaraan bantuan tersebut. (AFP/I-2)
