Tuesday, September 22

Perkuat Peran Komunitas untuk Menekan Angka Kematian Ibu dan Bayi di Forum Global


Prof. Rinawati Rohsiswatmo, Konsultan Senior Neonatal dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, saat menghadiri forum internasional bertajuk ‘Measuring What Matters, Doing What Works: PHC & Community Entry Points to Accelerate Maternal Health’ di sela-sela perhel(Istimewa)

MENURUNKAN angka kematian ibu dan bayi tidak bisa lagi hanya mengandalkan intervensi klinis di rumah sakit. Saat ini, dunia mulai beralih fokus pada penguatan layanan kesehatan primer, perbaikan sistem rujukan, serta pelibatan aktif komunitas sebagai elemen krusial dalam diskursus kesehatan global.

Topik krusial ini dibahas dalam forum internasional bertajuk ‘Measuring What Matters, Doing What Works: PHC & Community Entry Points to Accelerate Maternal Health’. Acara ini diselenggarakan oleh Business Council for International Understanding (BCIU) di sela-sela perhelatan World Health Assembly (WHA) ke-79 di Geneva, Swiss.

Indonesia menonjolkan perannya melalui Prof. Rinawati Rohsiswatmo, Konsultan Senior Neonatal dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Sebagai panelis, ia memaparkan strategi Indonesia dalam memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak.

Forum ini menjadi titik temu bagi para pemimpin kesehatan dunia, organisasi internasional seperti Unicef, lembaga pendanaan, hingga praktisi di garda terdepan. Selain Indonesia, hadir pula Dr. Geoff Ibbotson (Global Surgery Foundation), Dr. Maureen Momanyi (Unicef), dan Julius Mbeya (Lwala Community, Kenya) untuk mendiskusikan percepatan penurunan angka kematian ibu di negara berkembang.

Dalam paparannya, Prof. Rinawati menegaskan bahwa tantangan kesehatan maternal tidak bisa tuntas hanya di meja rumah sakit. Diperlukan kesinambungan layanan dari tingkat masyarakat hingga fasilitas medis rujukan.

“Program harus disesuaikan dengan konteks tiap daerah karena inequity masih menjadi tantangan besar. Penguatan komunitas menjadi kunci agar coverage meningkat dan angka kematian ibu serta bayi dapat terus ditekan,” ujar Prof. Rinawati.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kesuksesan kesehatan ibu bukan sekadar tentang kecanggihan alat medis. Hal yang lebih fundamental adalah kemampuan sistem kesehatan dalam menjangkau masyarakat secara berkelanjutan—mulai dari deteksi dini, proses rujukan yang mulus, hingga perawatan neonatal yang efektif. Pendekatan ini sangat relevan bagi negara berkembang yang masih bergulat dengan ketimpangan akses dan keterbatasan sumber daya.

Sebagai mantan Ketua UKK Perinatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, kehadiran Prof. Rinawati membawa rekam jejak nyata Indonesia dalam membangun jejaring layanan maternal dan neonatal berbasis komunitas.

Forum tersebut menghasilkan beberapa poin kunci untuk perbaikan kesehatan global:

– Penguatan Tenaga Kesehatan: Fokus pada mereka yang berada di garis depan.

– Integrasi Sistem: Memastikan sistem rujukan berjalan lancar.

– Pemanfaatan Data: Penggunaan data yang bermakna untuk mengukur efektivitas intervensi.

Partisipasi aktif Indonesia dalam forum strategis ini membuktikan bahwa pengalaman negara berkembang kini menjadi rujukan penting bagi kebijakan kesehatan dunia. Langkah ini menjadi wujud nyata komitmen Indonesia dalam mendukung tercapainya target Sustainable Development Goals (SDGs) terkait kesehatan ibu dan bayi pada tahun 2030. (Put/E-1)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *