
PENYAKIT diabetes tipe 2 yang selama ini identik dengan kelompok usia lanjut kini mulai menunjukkan pergeseran tren yang mengkhawatirkan. Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Dante Saksono Harbuwono, mengungkapkan bahwa kasus penyakit kronis ini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia remaja, bahkan telah menjangkau anak-anak di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Dante menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan alarm keras bagi kesehatan publik. Jika dahulu diabetes tipe 2 umumnya menyerang individu berusia di atas 40 atau 50 tahun, kini batas usia tersebut terus menurun secara drastis.
“Hari ini, dan ini yang membuat saya tidak bisa tenang sebagai seorang dokter, kita mulai melihatnya muncul pada remaja, bahkan beberapa kasus pada anak usia SMP,” ujar Dante dalam keterangannya, Rabu (27/5).
Pemicu Utama: Gaya Hidup dan Makanan Ultra-Proses
Menurut Wamenkes, faktor genetik bukan lagi menjadi pemicu tunggal. Perubahan gaya hidup yang radikal pada generasi muda menjadi faktor determinan utama. Tingginya durasi layar (screen time), kurangnya aktivitas fisik, hingga pola tidur yang berantakan menjadi pemicu utama menurunnya kualitas kesehatan remaja.
Selain itu, konsumsi gula yang berlebihan dan ketergantungan pada makanan ultra-proses mempercepat munculnya gejala diabetes. Dante juga menyoroti bahwa tekanan mental yang dihadapi remaja saat ini turut memperburuk kondisi fisik mereka. Ironisnya, diabetes tipe 2 pada remaja diketahui berkembang jauh lebih cepat dan agresif dibandingkan pada orang dewasa.
- Minim aktivitas fisik dan tingginya screen time.
- Konsumsi gula dan makanan ultra-proses yang berlebihan.
- Kurang waktu tidur berkualitas.
- Tekanan mental atau stres pada remaja.
Langkah Preventif dan Respons Pemerintah
Menghadapi ancaman ini, Dante menegaskan bahwa solusi jangka panjang tidak bisa hanya mengandalkan obat-obatan. Pencegahan harus dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga. Ia mendorong orang tua untuk menciptakan kebiasaan sehat di rumah, seperti makan bersama tanpa gawai dan aktif bergerak bersama.
Sebagai bentuk nyata, pemerintah telah meluncurkan berbagai program strategis untuk memitigasi risiko kesehatan pada anak sekolah. Berikut adalah ringkasan data dan langkah intervensi yang dilakukan:
| Program/Kebijakan | Target & Detail |
|---|---|
| Cek Kesehatan Gratis | Menjangkau 25 juta anak sekolah di seluruh Indonesia. |
| Sistem Label Nutri-Level | Label A hingga D pada kemasan untuk menginformasikan kadar gula. |
| Temuan Diagnosa Sekolah | Hipertensi, anemia, dan gangguan kesehatan gigi pada remaja. |
Dante juga membagikan pengalaman pribadinya dalam menjaga kebugaran dengan mendaki Gunung Ciremai bersama putranya. Menurutnya, aktivitas luar ruang seperti itu sangat efektif untuk melepas penat dari ketergantungan gawai sekaligus menjaga kesehatan fisik secara konsisten.
“Ini bukan untuk menakut-nakuti. Pencegahan harus dimulai sekarang. Makan bersama, tidur cukup, mengurangi waktu di depan layar, dan aktif bergerak bersama keluarga adalah kunci,” pungkasnya. (Z-1)
