Wednesday, September 16

Vaksin Lintas Generasi


(MI/Seno)

KITA ketahui bersama bahwa program vaksinasi adalah salah satu modalitas terbaik untuk mewujudkan kesehatan masyarakat di negara-negara dunia, tentu termasuk negara kita. WHO pada 2024 menyebutkan bahwa program vaksinasi di dunia telah berhasil menyelamatkan setidaknya 154 juta jiwa sejak 1974. Artinya, setiap menit ada enam kehidupan yang dapat diselamatkan karena mendapat vaksinasi.

Vaksin melindungi kita terhadap setidaknya 30 penyakit infeksi yang mengancam jiwa, seperti campak, difteria, pertusis, polio, rotavirus, dan influenza. Bahkan, pada 2025 WHO menyatakan, dengan perkembangan ilmu pengetahuan, jumlah itu terus meningkat, termasuk vaksin malaria, HPV (human papiloma virus), dengue, RSV (respiratory syncitial virus), Ebola, dan Mpox yang di kita masih dikenal dengan nama cacar monyet.

Sejauh ini kita memang melihat bahwa pemberian vaksin akan melindungi seseorang yang mendapat vaksinasi. Sebenarnya dampaknya bukan hanya pada individu. Jauh lebih luas dari itu, vaksin bekerja lintas generasi. Vaksinasi tak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga terhadap berbagai aspek kehidupan. Berikut akan disampaikan analisis tentang dampak vaksin pada lintas generasi ini.

Pada April 2026, atau beberapa bulan yang lalu, International Vaccine Institute (IVI) mengeluarkan publikasi yang menyampaikan dua hal penting. Pertama, vaksinasi awal memang diberikan pada masa anak-anak, tetapi dampak perlindungannya akan terbawa sampai dewasa (tentu dapat dengan kegiatan seperti booster dan atau vaksinasi ulangan), juga akan berdampak pada status kesehatan keluarga dan masyarakat.

Kedua, keberhasilan program vaksinasi tidak hanya terbatas pada seseorang terproteksi untuk tidak terkena penyakit. Keberhasilan program vaksinasi juga perlu dilihat dengan wujud nyata seperti cerianya anak-anak bersekolah, atau berkurangnya kunjungan ke klinik dan rumah sakit dengan penyakit yang dapat dicegah lewat imunisasi (PD3I), juga berjalannya kehidupan dengan baik tanpa kekhawatiran berlebihan terhadap penyakit-penyakit yang dapat dikendalikan dengan vaksinasi.

 

5 MASA KEHIDUPAN

WHO menyebutkan setidaknya ada lima masa kehidupan di mana vaksin bekerja melindungi kesehatan. Jadi memang lintas generasi. Pertama, pada bayi dan anak kecil, di mana sistem imunologinya masih sedang berkembang sehingga mereka masih cukup rentan tertular berbagai penyakit infeksi. Pada bayi dan anak sampai berumur 2 tahun, vaksin akan melindunginya terhadap penyakit seperti difteri, hepatitis B, campak, polio, pertusis, rotavirus, rubela, dan tetanus.

Kemudian, masa yang kedua ialah pada anak yang lebih besar, remaja, dan dewasa muda. Pada mereka mungkin diperlukan vaksinasi booster untuk memelihara imunitas, misalnya untuk difteri, pertusis, dan tetanus. Beberapa penyakit yang dapat dicegah pada masa ini antara lain HPV dan meningitis.

Masa kehidupan ketiga ialah pada kaum dewasa, termasuk yang umurnya terus bertambah sampai ke lanjut usia. Pada lansia, misalnya, maka daya tahan tubuhnya sudah mulai menurun sehingga lebih rentan tertular penyakit infeksi juga. Beberapa vaksin yang diberikan pada kelompok ini misalnya vaksin influenza dan pneumonia.

WHO menyebutkan masa kehidupan keempat yang dilindungi dengan vaksinasi ialah masa kehamilan. Tentu di sini yang akan dilindungi ialah sang ibu dan bayi yang dikandungnya. Bukan tidak mungkin pada pemberian vaksin tertentu, ibu akan dapat menyalurkan kekebalan ke bayi yang dikandungnya.

Kemudian, yang kelima ialah pemberian vaksinasi dengan target tertentu pada daerah yang tinggi prevalensi. Contohnya vaksinasi dengue, malaria, atau demam kuning. Vaksinasi khusus juga dapat diberikan kepada daerah yang sedang mengalami wabah, seperti vaksinasi Ebola, Mpox, dan kolera.

Secara umum WHO juga menyatakan bahwa dampak vaksinasi lebih luas daripada perlindungan pada orang per orang. Vaksinasi disebut akan memperkuat sistem kesehatan secara keseluruhan, mengurangi beban pelayanan kesehatan di klinik dan rumah sakit, serta berperan penting pada stabilitas negara melalui produktivitas warga yang sehat tanpa tertular penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

 

TERKENDALINYA PENYAKIT MENULAR

Laman Minggu Imunisasi Sedunia (World Immunization Week) 2026 menulis bahwa keberhasilan program vaksinasi membuat terkendalinya berbagai penyakit menular, dan bahkan sebagian sudah dieradikasi. Kita tahu bahwa penyakit cacar sudah hilang dari muka bumi karena vaksinasi. Polio juga tinggal hanya terjadi di beberapa negara berkat vaksinasi, serta peran penting vaksin pada pengendalian pandemi covid-19 yang lalu. Disebutkan juga bahwa di belakang seseorang yang mendapat vaksinasi, sebenarnya ada suatu sistem dan rentetan sumber daya manusia yang memungkinkan itu terjadi. Ini termasuk petugas kesehatan, para kader di lapangan, puskesmas, peneliti vaksin, pemerintah di berbagai tingkatan, lingkungan sekolah, dll. Di atas segalanya, yang juga amat penting ialah bagaimana komunikasi dibangun dengan masyarakat serta pasien dan keluarganya, pun terbangunnya kepercayaan publik.

Walaupun ada keberhasilan di dunia dan Indonesia, harus diakui masih banyak tantangan yang perlu dihadapi. Unicef menyatakan bahwa di tahun 2024 ada sekitar 20 juta anak yang tidak menyelesaikan vaksinasi secara lengkap. Untuk di negara kita, laman WHO Indonesia pada April 2026 menuliskan bahwa WHO mendukung pelaksanaan survei cakupan imunisasi Indonesia 2025 di 38 provinsi, yang hasilnya menunjukkan hanya 56,4% anak usia 12–23 bulan telah mendapatkan imunisasi lengkap. Artinya, sisanya belum lengkap. Dituliskan juga bahwa ketimpangan antardaerah sangat mencolok, dengan cakupan lebih dari 95% di Sulawesi Utara, tapi hanya 3,6% di Aceh.

 

VACCINE HESISTANCY

Tentu ada berbagai faktor yang menyebabkan belum optimalnya cakupan vaksinasi. Salah satunya, harus diakui memang ada sebagian pihak yang meragukan atau bahkan menolak vaksinasi. Ini yang disebut sebagai vaccine hesistancy. Pada dasarnya ini terjadi karena kesalahan informasi yang diterima, dan kalau berkepanjangan bahkan menyebabkan keengganan atau tidak mau menerima bukti ilmiah yang nyata tentang manfaat besar vaksinasi bagi kesehatan.

Dalam mengatasi vaccine hesistancy, ada peran penting media untuk memberitakan hal yang benar sesuai data ilmiah yang valid. Juga tentu ada peran penting para dokter dan petugas kesehatan untuk memberi penjelasan kepada pasien dan keluarga, serta penyuluhan kepada masyarakat luas. Selain itu, perlu peran penting pemerintah di berbagai tingkatan serta tokoh masyarakat untuk memberi literasi pentingnya vaksinasi bagi kesehatan anak bangsa, di mana pun berada.

Semoga program vaksinasi di negara kita dan dunia dapat terus digalakkan, dan tantangan yang dihadapi akan dapat diatasi dengan baik. Ditegaskan kembali bahwa vaksinasi adalah program yang melindungi kita semua, lintas generasi, lintas negara.

 



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *