Tuesday, September 22

Survei Gallup Mayoritas Guru AS Pakai AI tanpa Panduan Resmi


Ilustrasi.(Magnific)

PENGGUNAAN kecerdasan buatan (AI) menjadi hal yang lumrah di ruang kelas Amerika Serikat. Namun, jajak pendapat terbaru dari Walton Family Foundation dan Gallup mengungkapkan adanya kesenjangan besar antara implementasi teknologi dan regulasi resmi di sekolah.

Berdasarkan hasil survei tersebut, meskipun mayoritas guru mengadopsi alat AI untuk menunjang pekerjaan mereka, hanya 18 persen yang mengaku menerima panduan formal mengenai cara penggunaannya. Kurangnya arahan resmi ini memicu kekhawatiran mengenai privasi data siswa dan efektivitas pembelajaran.

Ketergantungan Tinggi, Minim Regulasi

Para guru yang berpartisipasi dalam jajak pendapat menyatakan bahwa mereka menggunakan AI untuk berbagai keperluan, mulai dari menyusun penilaian dan lembar kerja, merencanakan rencana pembelajaran (lesson plan), menilai tugas, hingga memberikan bimbingan belajar tambahan bagi siswa.

Data survei menunjukkan rincian panduan yang diterima pengajar sebagai berikut:

  • 18% menerima panduan formal/resmi.
  • 48% hanya menerima panduan informal, seperti percakapan lisan.
  • Sekitar sepertiga guru tidak menerima panduan sama sekali.

Kebijakan tertulis dan aturan resmi terkait AI masih dianggap barang langka di lingkungan pendidikan AS. Hal ini memaksa banyak guru, seperti Phillip Perry dari Bronx High School for Law and Community Service, untuk belajar secara otodidak.

Kesenjangan Ekonomi dan Keamanan Data

Survei ini juga menyoroti perbedaan tipis antara sekolah di lingkungan kaya dan miskin. Di sekolah dengan pendapatan tinggi, 52 persen guru menerima panduan informal, sementara di sekolah berpendapatan rendah, angka tersebut turun menjadi 40 persen. Namun, tingkat pelatihan formal tetap rendah di kedua kategori, yakni di kisaran 10-11 persen.

Di sisi lain, desakan untuk pengawasan yang lebih ketat terus meningkat. Para advokat pendidikan dan orangtua mengkhawatirkan akses perusahaan teknologi terhadap data pribadi siswa. Selain itu, muncul kekhawatiran bahwa ketergantungan pada AI dapat menghambat kemampuan berpikir kritis siswa dalam memecahkan masalah secara mandiri.

Seruan Pembatasan Layar

Presiden Federasi Guru Amerika (AFT), Randi Weingarten, menegaskan bahwa tanpa pengawasan dan pagar pembatas yang kuat, teknologi dapat mengancam privasi dan struktur sosial masyarakat. AFT, yang beranggotakan 1,8 juta orang, menyerukan langkah-langkah drastis, termasuk:

  • Larangan penggunaan layar untuk anak-anak hingga kelas dua SD.
  • Penghentian penggunaan AI yang berhadapan langsung dengan siswa di sekolah dasar.
  • Aturan ketat untuk mencegah siswa di bawah 16 tahun menggunakan chatbot yang berperilaku menyerupai manusia.

Keri Rodrigues, Presiden National Parents Union, menambahkan bahwa meskipun mayoritas orangtua antusias dengan peluang yang ditawarkan AI, transparansi tetap menjadi prioritas utama. “Kami memiliki pertanyaan besar tentang bagaimana guru menggunakan teknologi ini dan ke mana data siswa akan berakhir,” pungkasnya. (Washington Post/I-2)

 



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *