Tuesday, September 22

Israel Perluas Operasi Militer di Libanon saat Perundingan Berlangsung


Warga Libanon yang tewas akibat serangan Israel.(Al Jazeera)

PERDANA Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pada Jumat (29/5/2026) bahwa pasukannya merangsek lebih jauh ke dalam wilayah Libanon. Pernyataan ini muncul di tengah berlangsungnya pertemuan delegasi militer Israel dan Libanon dalam dialog keamanan bersejarah di Washington, Amerika Serikat.

Meskipun pembicaraan tingkat tinggi sedang berlangsung di Pentagon, Israel tetap melanjutkan pengeboman besar-besaran di Libanon selatan. Presiden Libanon Joseph Aoun, dalam pembicaraan telepon dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, menekankan urgensi upaya gencatan senjata sebagai langkah awal yang esensial.

Dalam video yang dirilis kantornya saat mengunjungi pasukan di dekat perbatasan, Netanyahu mengonfirmasi eskalasi operasi darat tersebut. “Pasukan kami telah menyeberangi Litani,” ujar Netanyahu, merujuk pada sungai strategis yang terletak sekitar 30 kilometer di utara perbatasan Libanon-Israel.

Netanyahu menambahkan bahwa militer Israel kini beroperasi di Beirut, Bekaa, dan di seluruh lini depan untuk menyerang Hizbullah secara langsung. Laporan dari Kantor Berita Nasional (NNA) Libanon menyebutkan serangan udara Israel menghantam lebih dari 20 lokasi di selatan, yang memicu gelombang pengungsian besar-besaran setelah ada perintah evakuasi untuk delapan kota.

Krisis Kemanusiaan dan Ancaman Situs Warisan

Data dari Kementerian Kesehatan Libanon menunjukkan skala konflik yang menghancurkan. Sejak perang pecah pada 2 Maret, lebih dari 3.355 orang tewas. UNICEF juga melaporkan dampak tragis terhadap anak-anak dengan 15 anak tewas dalam sepekan terakhir, menambah total menjadi 55 anak yang gugur sejak pengumuman gencatan senjata yang gagal pada April lalu.

Kota kuno Tyre, yang biasanya menjadi pusat pariwisata, kini dipenuhi pengungsi yang tidur di mobil dan tenda karena tempat penampungan telah penuh. Menteri Kebudayaan Libanon, Ghassan Salame, memperingatkan bahwa serangan Israel kini menempatkan situs-situs warisan budaya dalam bahaya serius.

Catatan Konflik: Gencatan senjata yang seharusnya berlaku sejak 17 April tidak pernah dipatuhi. Kedua belah pihak saling menuduh melakukan pelanggaran untuk membenarkan serangan balasan.

Diplomasi di Tengah Desing Peluru

Di Washington, delegasi militer Libanon yang dipimpin oleh Direktur Operasi Angkatan Darat, Georges Rizkallah, membawa misi untuk menekankan monopoli senjata oleh negara dan perluasan otoritas pemerintah di seluruh wilayah Libanon. Di sisi lain, delegasi Israel dipimpin oleh Brigadir Jenderal Amichai Levin.

Namun, upaya diplomasi ini menghadapi tantangan internal yang berat. Kelompok Hizbullah secara tegas menentang pembicaraan tersebut dan menolak untuk melucuti senjata. Sementara itu, Iran menegaskan bahwa setiap kesepakatan untuk mengakhiri konflik Timur Tengah yang lebih luas harus mencakup stabilitas di Libanon.

Hingga berita ini diturunkan, tank-tank Israel dilaporkan mencapai pinggiran kota Debbine. Mereka terlihat berada di antara wilayah tersebut dan Marjayoun yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Ini menandakan penetrasi darat yang terus meluas meski meja perundingan sedang digelar. (AFP/I-2)

 



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *