Monday, September 21

Strategi Kejutan Tiongkok Redam Harga Minyak Dunia saat Perang AS-Iran


Ilustrasi.(Magnific)

DI tengah berkecamuknya perang AS-Iran yang melumpuhkan jalur pasokan energi global, Tiongkok muncul dengan strategi mengejutkan yang berhasil membingungkan para analis komoditas dunia. Langkah Beijing memangkas impor minyak secara drastis justru menjadi faktor kunci yang menahan harga minyak global agar tidak meroket lebih liar.

Sejak konflik pecah, Selat Hormuz yang menjadi jalur bagi 20% pasokan minyak dunia praktis tertutup. Meski harga minyak saat ini mengalami kenaikan, angkanya jauh di bawah prediksi awal konflik yang sempat diperkirakan bakal menembus US$200 per barel.

Faktor Penahan Harga Global

Salih Yilmaz, analis minyak senior di Bloomberg Intelligence, menyebutkan bahwa Tiongkok ialah alasan utama mengapa harga minyak tidak mengalami lonjakan ekstrem selama gangguan di Hormuz. “Jika impor Tiongkok tetap pada level sebelum perang, harga minyak hampir dipastikan akan jauh lebih tinggi hari ini,” ujarnya.

Data menunjukkan penurunan impor yang signifikan:

  • Sebelum Perang: Tiongkok mengimpor sekitar 11 juta barel per hari (bph).
  • April 2026: Angka impor turun menjadi 9,3 juta bph.
  • Mei – Juni 2026: Impor diprediksi merosot tajam ke angka 6,5 juta bph.

Saat ini, harga minyak mentah Brent berada di bawah level US$100 per barel, didorong oleh harapan perpanjangan gencatan senjata. Meski telah naik 30% sejak awal tahun, angka ini masih jauh dari skenario terburuk para analis.

Misteri Cadangan Bawah Tanah

Pertanyaan besar yang muncul yaitu taktik Tiongkok memenuhi kebutuhan energinya dengan pemangkasan impor tersebut? Yilmaz menyoroti sistem inventaris Tiongkok yang sangat tertutup. Selain tangki yang terlihat, Tiongkok memiliki Strategic Petroleum Reserve (SPR) bawah tanah yang masif dan sulit dipantau.

Laporan dari Oxford Institute for Energy Studies mengungkapkan beberapa taktik yang dijalankan Beijing:

  1. Pengurangan Stok Komersial: Pemerintah mengizinkan kilang untuk menggunakan cadangan komersial mereka.
  2. Efisiensi Kilang: Kilang minyak memangkas volume pemrosesan dan mengubah bauran produk.
  3. Substitusi Batubara: Penggunaan batu bara ditingkatkan untuk memproduksi bahan kimia tertentu guna menggantikan peran minyak.
  4. Larangan Ekspor: Tiongkok memberlakukan larangan sementara ekspor produk minyak olahan tertentu.

Strategi Doomsday Prepper

Tiongkok tampaknya bersiap menghadapi krisis ini jauh-jauh hari. Berbeda dengan Amerika Serikat yang dinilai gagal mengisi kembali cadangan strategisnya saat harga rendah tahun lalu, Tiongkok justru agresif menimbun minyak pada tahun 2025.

Langkah ini memberikan Beijing leverage atau daya tawar besar dalam pasar energi global. Namun, tantangan tetap ada.

Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa inventaris minyak global sedang terkuras pada kecepatan rekor. Dunia kini menunggu seberapa lama Tiongkok mampu bertahan tanpa menguras cadangan strategisnya secara besar-besaran atau kembali melakukan impor dalam skala besar. (Axios/I-2)

 



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *