Wednesday, September 23

Pemikiran Ahmad Syafii Maarif Dihadirkan Lewat Seni


Melanjutkan rangkaian estafet kultural “Bulan Buya”, MAARIF Institute menggelar pentas budaya kolaboratif bertajuk “Bertutur tentang Guru Bangsa: Kaba Kebangsaan dari Minangkabau”. Acara yang berlangsung di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam, Institut Seni I(Dok. Istimewa)

MELANJUTKAN rangkaian estafet kultural “Bulan Buya”, MAARIF Institute menggelar pentas budaya kolaboratif bertajuk “Bertutur tentang Guru Bangsa: Kaba Kebangsaan dari Minangkabau”. Acara yang berlangsung di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam, Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Minggu (31/5/2026), menjadi momentum penting untuk meresapi kembali pemikiran luhur almarhum Ahmad Syafii Maarif.

Kegiatan ini merupakan simpul kedua dari rangkaian peringatan yang digelar di tiga kota: Yogyakarta, Padang Panjang, dan Jakarta. Sebelumnya, MAARIF Institute sukses membuka rangkaian ini dengan pameran seni rupa “Suluh Bangsa” di Yogyakarta. Pemilihan Padang Panjang sebagai lokasi kedua membawa pesan mendalam, mengingat keterikatan emosional dan intelektual Sang Guru Bangsa dengan bumi Minangkabau.

Menghidupkan Moralitas Melalui Seni Tutur

Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Andar Nubowo, dalam sambutannya menekankan bahwa peringatan hari lahir dan empat tahun wafatnya Buya Syafii Maarif adalah upaya konsisten untuk merawat gagasan beliau di tengah kemajemukan bangsa. “Ini adalah undangan untuk merenung di tengah dinamika zaman, mengajak kita pulang pada nilai keadaban luhur,” ujarnya dalam keterangan, Senin (1/6/2026).

Acara yang dihadiri sekitar 700 penonton ini dibuka secara resmi oleh Rektor ISI Padang Panjang, Febri Yulika. Salah satu momen paling reflektif adalah pembacaan ulang Kuliah Umum Buya Syafii Maarif yang pernah disampaikan di kampus tersebut pada 16 Maret 2015. Gagasan jernih tersebut disuarakan kembali oleh Dr. Dede Pramayoza untuk memanggil kembali memori kolektif generasi muda akan kejernihan berpikir sang tokoh.

Kolaborasi Multi-Media dan Estetika Budaya

Puncak acara diisi dengan pagelaran yang dikawal oleh Direktur Artistik Edy Utama. Pertunjukan ini memadukan narasi teatrikal, musik, dan visual secara harmonis. Kolaborasi ini melibatkan tangan dingin Music Director Muhammad Halim dan Susandra Jaya, serta penampilan memukau dari Komunitas Talago Buni.

Tim Kreatif Pentas Kaba Kebangsaan:

  • Direktur Artistik: Edy Utama
  • Narator: Andria C. Tamsin & Dede Primayoza
  • Pemusik/Vokal: Komunitas Talago Buni (Emri, Hasanawi, Febrianti, Anna Amelia Putri)
  • Visual/Video: Harista Wijaya

Edy Utama menjelaskan bahwa pendekatan multi-media sengaja dipilih agar pemikiran Buya Syafii yang kompleks dapat dipahami secara lebih luas dan cair oleh masyarakat lintas generasi. Melalui medium seni, pesan-pesan kemanusiaan dan kebangsaan diharapkan dapat merajut kembali tenun sosial yang mulai merenggang.

Setelah sukses di Padang Panjang, rangkaian Bulan Buya direncanakan akan mencapai puncaknya di Jakarta pada pertengahan Juni mendatang. MAARIF Institute berharap api nurani kebangsaan yang ditinggalkan Buya Syafii tetap menyala melalui berbagai medium kreativitas dan intelektualitas seperti ini.



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *