Thursday, October 1

Retaknya Solidaritas Afrika di Piala Dunia Sentimen Xenofobia Picu Dukungan untuk Meksiko


Ilustrasi.(Al Jazeera)

SOLIDARITAS khas Benua Hitam yang biasanya terlihat di awal turnamen Piala Dunia tampak memudar di jagat media sosial. Fenomena unik sekaligus memprihatinkan terjadi saat banyak penggemar sepak bola dari berbagai negara Afrika justru memberikan dukungan kepada Meksiko dalam laga pembuka melawan Afrika Selatan.

Dukungan tersebut bukan tanpa alasan. Di balik deretan meme jenaka yang menampilkan topi sombrero dan bendera Meksiko, tersimpan kemarahan mendalam terhadap laporan kekerasan xenofobia yang kembali marak di Afrika Selatan. Kekalahan 2-0 Bafana Bafana dari tim tuan rumah bersama Piala Dunia tersebut disambut dengan gelombang unggahan bernada sindiran di media sosial.

Protes Politik lewat Sepak Bola

Bagi sebagian besar suporter Afrika, mendukung Meksiko ialah bentuk protes terhadap perlakuan buruk yang dialami para migran di Afrika Selatan. Ketegangan mengenai isu migrasi ini menjadi alasan utama persaudaraan regional yang biasanya kokoh kini retak.

“Kami mendukung Meksiko agar Afrika Selatan bisa pulang lebih awal untuk menjaga pekerjaan mereka,” tulis salah satu pengguna media sosial, menyindir tuduhan tak berdasar bahwa warga asing bertanggung jawab atas tingginya angka pengangguran di sana.

Daniel Kaniki, seorang pendukung asal Kongo, menegaskan sentimen tersebut. “Afrika itu seperti satu negara. Jika ada satu yang mengusir yang lain, kita bukan keluarga lagi. Itulah alasan saya mendukung Meksiko hari ini,” ujarnya kepada BBC.

Konteks Krisis: Kelompok antimigran di Afrika Selatan menetapkan tenggat waktu hingga 30 Juni bagi warga negara asing yang tinggal secara ilegal untuk meninggalkan negara tersebut. Hal ini memicu gelombang evakuasi warga negara oleh Nigeria, Ghana, Zimbabwe, dan Malawi.

Respons Pemerintah dan Rakyat Afrika Selatan

Meskipun dihujani kritik, pemerintah Afrika Selatan tetap memberikan apresiasi atas perjuangan Bafana Bafana. Dalam pernyataan resminya, pemerintah memuji penampilan tim yang dianggap telah mewakili bangsa dengan persatuan dan tekad kuat di panggung dunia.

Warga Afrika Selatan di media sosial pun tidak tinggal diam menghadapi perundungan tersebut. Mereka menegaskan bahwa tim nasional mereka lolos ke Piala Dunia atas usaha sendiri tanpa memerlukan dukungan dari negara tetangga yang kini memusuhi mereka. “Kami tetap mencintai negara kami dan migran ilegal tetap harus pergi terlepas dari kebencian kalian,” tulis salah satu netizen setempat.

Akar Masalah: Ekonomi dan Xenofobia

Sentimen antimigran di Afrika Selatan bukanlah isu baru. Namun intensitasnya meningkat seiring dengan angka pengangguran yang menembus 30%. Sejak berakhirnya kekuasaan minoritas kulit putih pada 1994, banyak warga Afrika pindah ke negara ini demi kehidupan yang lebih baik.

Presiden Cyril Ramaphosa memperingatkan warga agar tidak main hakim sendiri. Namun ia juga mengakui bahwa kekhawatiran masyarakat mengenai lapangan kerja perlu didengar dan ditangani secara serius.

Kini, di tengah turnamen sepak bola terbesar di dunia, Afrika Selatan tidak hanya harus berjuang di lapangan hijau untuk membuktikan kemampuan mereka, tetapi juga menghadapi krisis citra di mata saudara-saudara sebenua. (BBC/I-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *