Monday, September 21

Waspada Risiko Gangguan Ginjal pada Bayi Prematur dan BBLR


Ilustrasi(magnific)

BAYI yang lahir secara prematur atau memiliki berat badan lahir rendah (BBLR) memerlukan perhatian ekstra, tidak hanya pada masa awal kelahiran, tetapi juga dalam jangka panjang. Salah satu risiko kesehatan yang mengintai adalah gangguan fungsi ginjal akibat proses pembentukan organ yang belum sempurna.

Dokter Spesialis Anak Subspesialis Nefrologi dari Rumah Sakit Pondok Indah, dr. Henny Adriani Puspitasari, Sp.A., Subsp.Nefro, menjelaskan bahwa organ ginjal memiliki masa pembentukan yang spesifik selama di dalam kandungan. Proses ini dimulai sejak usia kehamilan delapan minggu dan baru mencapai tahap sempurna saat mendekati usia 36 minggu.

“Kita tahu bahwa ginjal itu juga terbentuk ada masanya. Jika bayi lahir prematur (sebelum 36 minggu), berarti fungsi ginjalnya belum selesai pembentukannya,” ujar Henny dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta, dikutip Minggu (21/6).

Kekurangan Jumlah Nefron

Inti dari permasalahan ginjal pada bayi prematur terletak pada jumlah nefron. Nefron adalah unit fungsional terkecil dalam ginjal yang bertugas menyaring darah dan membuang zat sisa metabolisme. Bayi yang lahir sebelum waktunya cenderung memiliki jumlah nefron yang lebih sedikit dibandingkan bayi yang lahir cukup bulan.

Kondisi ini memaksa ginjal yang ada untuk bekerja lebih keras (hiperfiltrasi) sepanjang hidup anak. Beban kerja yang berlebih ini meningkatkan risiko munculnya berbagai masalah kesehatan di masa depan, seperti tekanan darah tinggi (hipertensi) hingga penyakit ginjal kronik (PGK) saat mereka beranjak dewasa.

Tabel: Risiko Ginjal pada Bayi Prematur & BBLR








Faktor Risiko Dampak pada Ginjal
Lahir < 36 Minggu Proses pembentukan organ ginjal terhenti/tidak optimal.
Defisit Nefron Jumlah penyaring darah lebih sedikit dari normal.
Beban Kerja Ginjal Ginjal bekerja lebih berat untuk mengompensasi kekurangan nefron.
Efek Jangka Panjang Risiko hipertensi dan penyakit ginjal kronik di usia dewasa.

Pentingnya Deteksi Dini

Meskipun kemajuan teknologi medis saat ini memungkinkan bayi prematur bertahan hidup hingga dewasa, dr. Henny mengingatkan bahwa pemantauan kesehatan ginjal tidak boleh diabaikan. Penyakit ginjal pada anak sering kali bersifat “senyap” atau tidak menunjukkan gejala yang khas pada tahap awal.

Dokter yang juga aktif dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini mengimbau para orang tua untuk rutin memantau tumbuh kembang anak secara berkala. Pemeriksaan kesehatan rutin menjadi kunci agar jika terdapat penurunan fungsi ginjal, penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

“Anak-anak dengan faktor risiko perlu dipantau lebih awal agar jika ada gangguan fungsi ginjal dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin,” pungkas lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut. (Ant/Z-1)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *