Tuesday, September 29

Manfaat Healing Forest bagi Kesehatan dan Solusi Triple Planetary Crisis


Ilustrasi(magnific)

DI tengah meningkatnya tekanan hidup masyarakat perkotaan dan ancaman triple planetary crisis, yang mencakup perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta pencemaran lingkungan, peran hutan kini dinilai jauh lebih krusial. Hutan bukan lagi sekadar kawasan hijau penyerap karbon, melainkan instrumen penting bagi kesehatan manusia melalui konsep healing forest atau terapi hutan.

Guru Besar IPB University, Prof Siti Badriyah Rushayati, menjelaskan bahwa jasa lingkungan hutan berkontribusi langsung terhadap ketahanan fisik dan mental.

Dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, Sabtu (27/6), ia menekankan bahwa paparan lingkungan hutan secara ilmiah terbukti memberikan dampak positif yang signifikan.

Keajaiban Senyawa Phytoncide

Manfaat kesehatan dari hutan tidak lepas dari keberadaan phytoncide. Senyawa volatil alami ini diproduksi oleh tumbuhan sebagai mekanisme pertahanan diri, namun memberikan efek terapeutik bagi manusia yang menghirupnya.

“Paparan udara hutan dapat meningkatkan aktivitas natural killer cells yang berperan melawan infeksi dan sel kanker. Selain itu, terapi hutan juga terbukti mampu menurunkan tingkat stres,” ujar Prof Siti.

Berikut adalah ringkasan manfaat senyawa phytoncide dan kriteria lokasi healing forest menurut Prof Siti Badriyah Rushayati:








Aspek Detail Manfaat / Persyaratan
Manfaat Kesehatan Meningkatkan sel imun (NK cells), antioksidan, menurunkan tekanan darah, dan mengurangi stres.
Kualitas Lingkungan Tingkat kebisingan rendah dan kualitas udara yang bersih/baik.
Keamanan & Kenyamanan Kondisi medan yang aman dan suasana yang memberikan ketenangan panca indera.
Potensi Ekonomi Pengembangan wisata berbasis jasa lingkungan (contoh: Tahura Ir H Djuanda).

Syarat Mutlak Terapi Hutan

Meski bermanfaat, Prof Siti menegaskan bahwa healing forest tidak dapat dilakukan di sembarang kawasan hijau. Lokasi terapi harus memenuhi standar tertentu agar proses relaksasi berjalan optimal.

“Seluruh panca indera harus dapat menyatu dengan alam. Jika tingkat kebisingan terlalu tinggi, proses relaksasi tidak akan berjalan optimal,” jelasnya.

Lebih lanjut, konsep ini juga membuka peluang ekonomi baru melalui ekowisata. Salah satu implementasi sukses terlihat di Taman Hutan Raya (Tahura) Ir H Djuanda yang menyediakan paket wisata healing forest dengan jalur khusus dan pemandu terlatih. Upaya ini dinilai mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian hutan.

Menghadapi Krisis Planet

Sebagai solusi jangka panjang menghadapi triple planetary crisis, Prof Siti mendorong pendekatan berbasis lanskap yang mengintegrasikan konservasi, restorasi ekosistem, dan pembangunan hutan kota. Penggunaan teknologi serta pelibatan pemangku kepentingan menjadi kunci dalam meningkatkan penyerapan polutan oleh vegetasi.

“Ketahanan iklim, ketahanan ekosistem, dan kesehatan masyarakat hanya dapat tercapai apabila pembangunan berjalan selaras dengan fungsi jasa lingkungan hutan,” pungkasnya. (Z-1)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *