Thursday, October 15

Abdul El-Sayed Usulkan Pembekuan Pengembangan AI demi Keamanan Pemilih


Kandidat Senat Michigan Abdul El-Sayed.(The Washington Post)

KANDIDAT Senat dari Partai Demokrat Michigan, Abdul El-Sayed, meluncurkan proposal ambisius untuk membekukan pengembangan model kecerdasan buatan (AI) tingkat lanjut dan pembangunan pusat data. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk merespons kekhawatiran mendalam para pemilih terhadap pesatnya perkembangan teknologi tersebut.

Proposal bertajuk AI Under Control ini menuntut perusahaan teknologi untuk menghentikan sementara pelatihan dan peluncuran sistem AI paling kuat hingga pembuat kebijakan berhasil menyusun batasan (guardrails) baru. El-Sayed juga mendukung pembentukan lembaga pemerintah setingkat Kabinet yang bertugas menginspeksi laboratorium AI, memblokir produk berbahaya, dan memerintahkan penutupan sistem yang dianggap tidak terkendali.

Merespons Kecemasan Publik

Keputusan El-Sayed untuk merilis rencana ini di minggu-minggu terakhir pemilihan menunjukkan upaya Partai Demokrat untuk memanfaatkan kecemasan publik. Jajak pendapat menunjukkan mayoritas warga Amerika merasa waspada terhadap perkembangan AI yang sangat cepat.

“Pemilih merasa sangat ketakutan terhadap AI,” ujar El-Sayed dalam wawancara dengan The Washington Post. Ia menjelaskan bahwa isu ini menjadi titik fokus ketakutan masyarakat mengenai ketersediaan lapangan kerja di masa depan, nasib anak-anak mereka, hingga kekhawatiran lingkungan terkait pembangunan pusat data di lingkungan tempat tinggal mereka.

Menurut El-Sayed, menyusun regulasi untuk melindungi publik dari kemungkinan hilangnya kendali perusahaan atas alat AI adalah salah satu isu terpenting yang dihadapi Kongres mendatang.

Kontras Politik dan Kritik Terhadap Lawan

Isu AI ini juga digunakan El-Sayed untuk menyerang lawan politiknya dari Partai Republik, Mike Rogers, serta Presiden Donald Trump. Trump menolak seruan untuk memperlambat pengembangan AI dan lebih memilih agar industri teknologi melakukan pengawasan mandiri.

Menanggapi hal tersebut, juru bicara Gedung Putih Liz Huston menyatakan bahwa Presiden Trump berkomitmen agar Amerika memimpin dunia dalam Super Intelligence dengan mempercepat inovasi sambil tetap memastikan penyebaran model yang bertanggung jawab.

Meskipun jajak pendapat New York Times/Siena pada September menunjukkan hanya 2 persen pemilih Michigan yang menempatkan AI sebagai isu utama, El-Sayed unggul 11 poin atas Rogers dalam hal kepercayaan publik untuk menangani masalah pusat data. Rogers sendiri sempat mendukung moratorium satu tahun pusat data di Michigan setelah muncul laporan mengenai investasinya senilai Rp26,3 miliar (kurs estimasi) di perusahaan yang diuntungkan oleh booming AI.

Detail Proposal AI Under Control

Rencana El-Sayed ini dikembangkan dari proposal yang sebelumnya diperkenalkan oleh tokoh progresif seperti Senator Bernie Sanders dan anggota DPR Greg Casar. Beberapa poin utama dalam proposal tersebut meliputi:

  • Larangan Recursive Self-Improvement: Melarang teknik di mana sistem AI digunakan untuk merancang dan membangun penerusnya sendiri.
  • Pengawasan Langsung: Menempatkan regulator di dalam sandbox pengembangan untuk memantau setiap pergerakan model AI secara langsung.
  • Perlindungan Whistleblower: Memberikan perlindungan hukum bagi karyawan yang mengungkap bahaya AI.
  • Prosedur Darurat Nasional: Mewajibkan pelaporan sistem yang tidak terkendali dan melakukan latihan simulasi darurat AI secara rutin oleh pemerintah.

“Apa gunanya Kongres dan pemerintah federal jika tidak melindungi Anda dari hal-hal yang bisa menghancurkan masa depan Anda?” tegas El-Sayed menutup pernyataannya. (The Washington Post/I-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *