Tuesday, October 13

Banyak Dokter Tua di AS Pengalaman atau Risiko Keselamatan Pasien


Ilustrasi.(Magnific)

KASUS Richard David Heekin, seorang ahli bedah ortopedi di Florida, Amerika Serikat, menjadi peringatan keras bagi dunia medis. Karier panjang Heekin berakhir dengan lebih dari 522 gugatan hukum setelah ia dituduh tetap melakukan operasi meski menderita kondisi neurologis progresif yang mengganggu keseimbangan dan bicaranya.

Tragedi ini, yang mencakup kematian pasien dan cedera permanen, memicu perdebatan nasional mengenai risiko penuaan tenaga medis terhadap keselamatan pasien. Berikut tanggapan lengkap atas kasus tersebut.

Krisis Kesehatan Publik yang Mengintai

Data menunjukkan bahwa tenaga medis di AS semakin menua. Hampir 47% dokter aktif kini berusia 55 tahun ke atas, meningkat signifikan dari 38% pada tahun 2007.

Victor Del Bene, neuropsikolog klinis dari University of Alabama, memperingatkan ada krisis kesehatan masyarakat yang membayangi akibat kombinasi tenaga kerja yang menua dan kurangnya pasokan dokter baru. Secara biologis, penuaan sering kali disertai penurunan fungsi kognitif seperti kecepatan pemrosesan informasi, memori kerja, dan atensi.

American Academy of Neurology mencatat frekuensi gangguan kognitif ringan meningkat dari 8,4% pada usia 65-69 tahun menjadi 25,2% pada usia 80-84 tahun. Penyakit seperti Parkinson dan Alzheimer juga lebih lazim ditemukan pada kelompok usia lanjut.

Debat Kebijakan: Pensiun Wajib vs Skrining Berbasis Usia

Hingga saat ini, belum ada bukti konklusif bahwa usia semata menyebabkan kinerja dokter memburuk. Namun, beberapa studi menunjukkan korelasi yang mengkhawatirkan. Tinjauan tahun 2005 terhadap 62 studi menemukan bahwa dokter dengan pengalaman lebih lama justru berisiko memberikan perawatan berkualitas lebih rendah dalam beberapa parameter.

Menanggapi hal ini, muncul dua pendekatan kebijakan utama:

  • Pensiun Wajib: Kebijakan ini jarang terjadi di AS, tetapi umum di negara seperti India (65 tahun) dan Tiongkok (60 tahun untuk pria). Di AS, salah satu contohnya ialah Kaiser Southern California Permanente Medical Group yang mewajibkan mitra dokter pensiun pada usia 65 tahun.
  • Skrining Berbasis Usia: Rumah sakit seperti Yale New Haven dan Hartford HealthCare mewajibkan dokter senior menjalani penilaian fisik dan kognitif. Hasil awal di Yale menunjukkan 12,7% praktisi yang diperiksa memiliki defisit yang berpotensi mengganggu kinerja mandiri mereka.

Catatan Etika: Kebijakan skrining berbasis usia sering kali memicu kemarahan di kalangan dokter karena dianggap stigmatis dan diskriminatif. Pada tahun 2020, Yale bahkan digugat oleh Komisi Kesempatan Kerja Setara (EEOC) AS atas dugaan pelanggaran undang-undang diskriminasi usia.

Mencari Jalan Tengah: Penilaian Sepanjang Karier

Para ahli mulai mendorong solusi yang lebih adil: penilaian kompetensi untuk semua dokter tanpa memandang usia. American College of Surgeons pada tahun 2024 mendukung model penilaian sepanjang karier yang menggabungkan hasil klinis, kesehatan fisik, dan ukuran kognitif standar.

Pendekatan ini dianggap lebih komprehensif karena ancaman terhadap kompetensi–seperti stroke, cedera kepala, atau masalah zat–bisa terjadi pada usia berapa pun. Tujuannya bukan mendepak dokter dari profesinya, melainkan mengidentifikasi hal-hal yang masih bisa dilakukan dokter secara aman.

“Program yang paling sukses bukanlah yang melihat ini sebagai alasan untuk menendang dokter, tetapi mencoba memahami bagaimana kita dapat membantu dokter terus berpraktik dengan aman,” pungkas Thomas Gallagher, bioetikus dari University of Washington. (The Washington Post/I-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *