
HARI Konservasi Alam Nasional (HKAN) diperingati setiap tanggal 10 Agustus. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menyatakan bahwa HKAN merupakan momentum selebrasi sekaligus kontemplasi terhadap kerja dalam konservasi, sumber daya alam, hayati dan ekosistemnya.
“Peringatan HKAN memberikan gambaran tentang peran menjaga hutan dan kawasan hutan sebagai elemn sebagai struktur membentuk bentang alam dna lingkungan serta semua faktor yang sangat memengaruhi di dalamnya,” kata Siti dalam agenda Puncak HKAN yang diikuti secara daring, Kamis (29/8).
Baca juga : Forestra 2024, dari Orkestra Hutan hingga Upaya Pelestarian Lingkungan
Ia menyatakan, HKAN telah dilaksanakan secara terus-menerus sejak tahun 2014. Dengan mengambil lokasi di taman nasional, taman hutan raya dan lain-lain. Hal ini bertujuan untuk menumbukan minat dan wawasan bina cinta alam kepada masyarakat.
HKAN merupakan upaya memasyarakatkan konservasi alam secara nasional sebagai sikap, gaya hidup dan gaya bangsa serta untuk mempromosikan kelestarian dan pemanfaatan secara lestari sumber daya alam.
“Kampanye publik merupakan bagian penting dari kerja-kerja sektor kehutanan dan lingkungan,” imbuh dia.
Baca juga : Menteri LHK Pimpin Upacara HUT ke-79 Kemerdekaan RI di Gunung Rinjani
Dengan demikian, sambung menteri LHK, jajaran dan komunitas konservasi alam sangat penting sebagai pertahanan garis belakang dari semua kerja-kerja kehutanan.
“Saya selalu bilang pertahanan garis belakang, kalau garis belakang, itu sudah bagian yang harus banget untuk dijaga,” kata Siti.
Ia menjelaskan bahwa biasanya puncak acara HKAN dilaksankan di kawasan konservasi, namun untuk tahun 2024 ini puncak peringatan HKAN kita lakukan di wilayah perkotaan untuk menarik minat dan kehadiran masyarakat secara lebih kuat.
Menteri Siti menuturkan Kabupaten Boyolali dipilih sebagaoi lokasi HKAN 2024 karena secara administratif di wilayah ini terhadapat dua taman nasoional penting, di antaranya di Kabupaten Boyolali, yakni Taman Nasinal Gunung Merbabu dan Taman Nasional Gunung Merapi.
“Kedua kawasan hutan konservasi ini dikelilingi oleh sejumlah desa, di mana warganya bergantung sebagian atau seluruh penghidupannya pada sumber daya yang disediakan oleh dua taman nasional tersebut,” jelasnya. (H-3)
