Thursday, September 24

CEO YouTube Tolak Gabung Kesepakatan Perlindungan Anak Meta


CEO YouTube Neal Mohan menolak bergabung dalam kesepakatan penyelesaian masalah keselamatan anak Meta. YouTube dinilai sudah punya fitur pengaman sendiri.(Instagram)

CEO YouTube Neal Mohan menolak gagasan untuk bergabung dalam kesepakatan penyelesaian gugatan lintas negara bagian terkait keselamatan anak yang disetujui Meta. Mohan menegaskan platform video milik Google tersebut telah menerapkan berbagai langkah untuk melindungi pengguna muda.

“Kami telah berinvestasi untuk memastikan bahwa anak muda aman di platform kami… sejak waktu yang sangat lama,” kata Mohan kepada CNN. “Apa yang harus Anda harapkan dari YouTube adalah terus berfokus pada hal-hal tersebut.”

Komentar Mohan disampaikan dalam pertemuan dengan wartawan pada acara tahunan Made on YouTube. Dalam acara tersebut, perusahaan mengumumkan pembaruan fitur bagi pencipta konten dan penonton, termasuk alat kecerdasan buatan (AI) baru serta fitur pesan.

Tekanan Meta dan Klaim Kasus Lintas Negara Bagian

Meta sebelumnya menyetujui kesepakatan bernilai US$18 miliar untuk menyelesaikan klaim dari puluhan negara bagian. Gugatan tersebut menuduh Meta merancang platform yang adiktif sehingga berkontribusi pada krisis kesehatan mental remaja.

Meta lantas berupaya menekan para pesaingnya, seperti YouTube dan TikTok, untuk menerapkan perubahan serupa. Langkah tersebut mencakup pembatasan waktu penggunaan, penghapusan jumlah like bagi pengguna remaja, hingga pengawasan pihak ketiga atas praktik keselamatan mereka.

Sebagai bagian dari kesepakatan, Meta menyatakan hanya akan membayar 70% dari total nilai penyelesaian, kecuali TikTok dan YouTube bersedia membayar masing-masing sekitar US$6 miliar serta melakukan perubahan serupa. Jaksa Agung California Rob Bonta menyatakan bahwa negara-negara bagian siap membawa TikTok dan YouTube ke pengadilan jika diperlukan agar mereka mematuhi kesepakatan tersebut.

Namun, Mohan menyatakan keyakinannya terhadap langkah-langkah keselamatan yang telah dijalankan YouTube. Salah satunya adalah fitur bagi orangtua untuk membatasi durasi remaja menonton fitur video pendek, Shorts. Ia menambahkan YouTube bekerja sama dengan pakar independen untuk memberi masukan mengenai fitur keselamatan anak.

“Kami juga merupakan platform yang sangat berbeda (dari Meta),” kata Mohan, seraya menambahkan bahwa perusahaan kini berfokus pada pengguna yang menonton lebih banyak konten melalui televisi di ruang keluarga.

Sementara itu, TikTok belum memberikan komentar terkait desakan untuk bergabung dalam kesepakatan Meta, dan kantor Jaksa Agung Bonta tidak segera merespons permintaan tanggapan atas sikap Mohan.

Gelombang Gugatan Hukum Masih Berlanjut

Sebelumnya pada bulan Maret, YouTube dan Meta dinyatakan bertanggung jawab dalam persidangan terpisah di Los Angeles atas tuduhan sengaja membuat seorang wanita muda kecanduan hingga merusak kesehatan mentalnya. Kedua perusahaan berencana mengajukan banding atas putusan tersebut.

Seorang juru bicara YouTube saat itu menyatakan bahwa putusan tersebut “salah memahami YouTube, yang merupakan platform streaming yang dibangun secara bertanggung jawab, bukan situs media sosial.”

YouTube telah menyelesaikan gugatan lain dari seorang remaja dengan klaim serupa pada awal tahun ini, begitu pula dengan TikTok dan Snap, sementara kasus melawan Meta dibatalkan oleh remaja tersebut. Kendati demikian, keempat perusahaan teknologi raksasa ini masih menghadapi ratusan gugatan dari individu, keluarga, dan distrik sekolah yang mengklaim bahwa platform mereka membahayakan pengguna muda. (CNN/Z-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *