
KESADARAN masyarakat terhadap keamanan dan efektivitas produk kesehatan dinilai semakin meningkat, terutama di kalangan ibu muda. Hal itu disampaikan dalam acara Scientifically Proven ASI Booster Innovation with OHT Formulation yang membahas pentingnya standar ilmiah pada produk pendukung ASI.
Founder Mom Uung, Uung Victoria Finky, mengatakan konsumen saat ini, khususnya generasi muda dan orang tua Gen Z, semakin kritis terhadap produk yang dikonsumsi.
“Sekarang ibu-ibu itu sudah makin kritis. Mereka ingin tahu apa yang diminum, komposisinya apa, dan apakah klaim produknya benar-benar terbukti,” ujarnya di Pullman Hotel (9/5).
Menurut Uung, proses untuk mendapatkan standar Obat Herbal Terstandar (OHT) bukan hal mudah. Ia menyebut proses tersebut telah dimulai sejak 2021 dengan berbagai tahapan penelitian dan pengujian.
“Prosesnya panjang, mulai dari riset, mencari sampling, sampai pengujian. Kalau ada yang kurang sesuai, harus diulang lagi dari awal,” katanya.
Ia menjelaskan, selama ini banyak produk herbal masih berada di level jamu yang manfaatnya hanya didasarkan pada pengalaman empiris masyarakat. Sementara standar OHT mewajibkan adanya penelitian pra-klinis dan validasi ilmiah terhadap keamanan maupun manfaat produk.
“Kalau OHT itu aksesnya susah, jumlahnya bahkan enggak sampai 10 persen dibanding jamu. Jadi effort untuk sampai ke tahap ini memang besar,” ujarnya.
Menurut Uung, transformasi menuju OHT bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap kesehatan ibu dan bayi.
“Ini bukan cuma soal jualan atau klaim keren sebagai ASI booster berstandar OHT. Kita percaya ketika membantu ibu menyusui, kita juga ikut mendukung generasi masa depan Indonesia,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, dokter anak Ian Suryadi Suteja menilai keberadaan ASI booster berbasis evidence-based medicine sangat penting, terutama bagi tenaga kesehatan dalam memberikan rekomendasi kepada pasien.
Ia mengatakan selama ini banyak ibu menyusui bertanya mengenai cara meningkatkan produksi ASI, namun sebagian besar produk yang beredar belum memiliki data ilmiah yang kuat.
“Kalau sebagai dokter, tentu saya lebih nyaman merekomendasikan produk yang sudah punya uji klinis dan evidence based yang jelas,” ujar dr. Ian.
Menurutnya, perbedaan utama antara produk jamu dan OHT terletak pada validitas data ilmiah. Produk OHT telah melalui pengujian sehingga manfaatnya dapat dipertanggungjawabkan secara medis.
“Kalau jamu kan seringnya masih ‘katanya bagus’. Tapi kalau yang sudah OHT, kita bisa jelaskan datanya. Misalnya produksi ASI meningkat sekitar 150 ml per hari, itu ada penelitiannya,” katanya.
Dr. Ian juga mengungkapkan hasil penelitian terbaru menunjukkan adanya peningkatan kandungan AA-DHA atau lemak baik yang penting untuk perkembangan otak bayi, serta peningkatan protein dalam ASI ibu yang mengonsumsi ASI booster berstandar OHT.
“Kandungan AA-DHA atau lemak baik untuk perkembangan otak meningkat, proteinnya juga meningkat. Nanti hasil lengkapnya akan dipublikasikan lebih lanjut,” ujarnya.
Menurutnya, manfaat tersebut menjadi penting karena nutrisi dalam ASI sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang bayi, khususnya pada 1.000 hari pertama kehidupan.
Menariknya, Uung menyebut tidak ada perubahan formula produk saat bertransformasi dari jamu menjadi OHT. Formula yang digunakan tetap sama, hanya kini telah dibuktikan secara ilmiah melalui berbagai pengujian.
“Jadi formulanya tetap sama seperti sebelumnya. Bedanya sekarang sudah dilakukan pengujian dan hasilnya memang terbukti sesuai,” kata Uung.
Meski proses penelitian dan sertifikasi membutuhkan biaya besar, ia mengaku masih berupaya mempertahankan harga produk agar tetap terjangkau di tengah kenaikan harga bahan baku.
Sementara terkait target bisnis, Uung mengaku lebih fokus pada dampak sosial yang dihasilkan, khususnya jumlah ibu menyusui yang berhasil dibantu.
“Goals kami bukan sekadar angka penjualan, tapi berapa banyak ibu yang bisa terbantu setiap tahunnya,” pungkasnya. (Z-10)
