
HARGA minyak turut terpengaruh setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi menolak proposal perdamaian yang diajukan Iran. Melalui platform Truth Social, Trump menyebut proposal balasan dari Teheran tidak dapat diterima.
“Saya baru saja membaca tanggapan dari pihak yang disebut ‘Perwakilan’ Iran. Saya tidak menyukainya, SANGAT TIDAK BISA DITERIMA!,” tulis Trump dikutip AFP.
Langkah Washington tersebut tidak hanya memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik di Timur Tengah, tetapi juga langsung mengguncang stabilitas pasar energi global.
Harga minyak mentah jenis Brent dilaporkan melonjak 2,69 persen ke level 104,01 dolar AS atau sekitar Rp1,80 juta per barel pada pembukaan perdagangan Senin (11/5).
Penolakan Donald Trump terhadap tawaran yang disampaikan melalui mediator Pakistan itu didasari anggapan bahwa persyaratan Teheran sama sekali tidak bisa diterima.
Padahal, proposal Iran tersebut menitikberatkan pada penghentian perang di berbagai front, termasuk di Lebanon, serta pemberian jaminan keamanan pelayaran.
Situasi kian memanas setelah Iran memberikan peringatan keras terhadap rencana Inggris dan Prancis yang berniat membentuk koalisi internasional untuk mengamankan Selat Hormuz.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa otoritas keamanan di jalur pelayaran vital tersebut sepenuhnya berada di tangan mereka.
“Hanya Republik Islam Iran yang dapat menciptakan keamanan di selat ini dan tidak akan membiarkan negara mana pun mencampuri urusan tersebut,” tegasnya dikutip dari AFP.
Klaim sepihak ini menambah tekanan di wilayah yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia tersebut. Di lapangan, eskalasi militer mulai terlihat dengan adanya laporan serangan pesawat tak berawak atau drone di kawasan Teluk.
Uni Emirat Arab dan Kuwait mengaku telah mencegat sejumlah drone yang melintasi wilayah udara mereka, sementara sebuah kapal kargo tujuan Qatar dilaporkan terkena serangan.
Kondisi ini memicu peringatan balik dari Teheran kepada pihak militer Amerika Serikat agar tidak melakukan tindakan provokatif terhadap armada mereka.
Juru bicara Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran Ebrahim Rezaei menyatakan bahwa masa menahan diri telah berakhir.
“Kesabaran kami telah habis mulai hari ini. Setiap serangan terhadap kapal kami akan memicu respons Iran yang kuat dan menentukan terhadap kapal serta pangkalan Amerika,” ujar Rezaei. (H-4)
