
TIDAK ada jalan yang mudah untuk menjadi juara. Itulah yang dirasakan oleh Arsenal. Musim kompetisi terasa lebih panjang karena jalan yang harus mereka lalui begitu licin dan berliku.
Namun, ujung jalan akhirnya kini terlihat. Dua piala menunggu di depan mata, yaitu trofi Liga Primer dan Liga Champions. Tiga pekan terakhir ini akan menentukan apakah mereka bisa menggapai impian itu atau tidak.
Lebih dari dua dekade the Gunners tidak pernah bisa mengangkat piala Liga Primer. Pelatih Mikel Arteta selalu hampir bisa meraihnya, tetapi piala itu selalu terlepas pada saat-saat terakhir.
Untuk Piala Champions bahkan lebih tragis lagi. Sepanjang hampir 140 tahun berdiri, Arsenal belum sekali pun pernah mengangkat simbol tertinggi sepak bola Eropa tersebut.
Kini, kesempatan ada di depan mata. Kemenangan 1-0 atas Atletico Madrid Selasa lalu memastikan langkah mereka untuk tampil di pertandingan puncak pada 31 Mei mendatang di Budapest, Hungaria.
Namun, langkah yang harus dilewati tidak mudah karena mereka harus bertemu juara bertahan Paris Saint Germain (PSG). Pelatih PSG Luis Enrique mampu membawa tim asuhannya lolos dari hadangan terberat setelah memaksa juara Jerman, Bayern Muenchen, bermain imbang 1-1 di Allianz Arena, Rabu lalu.
Seperti halnya Arsenal, PSG menang secara agregat karena pada pertandingan pertama di Parc des Princes, Paris, seminggu sebelumnya, Marquinhos dan kawan-kawan menang 5-4 atas Bayern Muenchen. Setelah pertama kali menjuarai Liga Champions pada tahun lalu, PSG masuk jajaran elite Eropa yang bisa dua kali berturut-turut tampil di final.
Arsenal bisa berkonsentrasi terlebih dahulu untuk memenangi Liga Primer musim ini. Apabila pada 24 Mei nanti dapat menyelesaikan misi dengan baik, tim asuhan Arteta bisa lebih fokus memenangi Liga Champions sepekan kemudian.
The Gunners bisa menduetkan dua piala bergengsi itu apabila tidak terlalu cepat berpesta. Sebab, sedikit saja lengah, maka dua kesempatan itu akan bisa terbang. Padahal inilah kesempatan terbaik bagi Arsenal untuk menjadi yang terbaik di Inggris dan Eropa sekaligus.
BELAJAR DARI KESALAHAN
Manusia yang hebat bukan ditentukan oleh kepintarannya, tetapi bagaimana mau belajar dari kesalahan dan memperbaiki diri. Sebab, tidak pernah akan ada manusia yang sempurna. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, tetapi bagaimana lalu cepat memperbaikinya.
Dalam kolom ini pernah diangkat bagaimana Arteta melakukan kesalahan fatal. Pada saat-saat yang menentukan, pelatih asal Spanyol itu kehilangan kepercayaan diri. Apalagi di luar dugaan sempat dikalahkan Bournemouth.
Pada pertandingan yang menentukan menghadapi Manchester City, ia menurunkan formasi yang tidak biasa. Arteta memainkan semua pemain terbaik yang ia miliki sekaligus. Harapannya membuat lawan kaget kemudian para pemain bintang itu bisa mencuri kemenangan.
Ternyata hasilnya berbeda dengan perkiraannya. Arsenal tidak hanya harus menelan kekalahan 1-2, tetapi keunggulan poin bisa disamai sang pesaing.
Arteta belajar dari kesalahannya. Tim yang baik bukanlah tim yang berisikan pemain-pemain bintang. Yang lebih penting ialah tim yang berisi pemain yang saling mengerti, saling mengisi, dan saling melengkapi sebagai sebuah tim yang utuh.
Tidak ada lagi Martin Oedegaard, Eberechi Eze, dan Kai Havertz yang dimainkan sekaligus. Arteta memilih siapa yang paling dibutuhkan dan paling cocok menjadi playmaker untuk menghadapi tim lawan.
Arsenal pun kembali ke formasi yang lama. Bukayo Saka dan Leandro Trossard atau Gabriel Martinelli yang bermain dari sayap. Arteta memilih Viktor Gyokeres sebagai starter untuk menjadi ujung tombak tunggal. Penyerang asal Swedia itu memang lebih berani dan lebih oportunis jika dibandingkan dengan Havertz.
Di lapangan tengah, Eze dipilih sebagai starter. Kalau perannya tidak optimal, baru Odegaard masuk untuk meningkatkan tempo serangan. Declan Rice menjadi pendamping utama untuk menjaga keseimbangan tim di lapangan tengah.
Satu yang menarik dilakukan Arteta dalam dua pertandingan terakhir ialah mengistirahatkan Martin Zubimendi dan menggantikannya dengan pemain muda Myles Lewis-Skelly sebagai starter. Zubimendi tidak mungkin terus dimainkan karena bisa kelelahan dan jenuh. Kesalahan fatal yang ia lakukan dalam memberikan back pass membuat Arsenal menyerah dari Manchester United.
TIGA LAGI
Arsenal kini berada dalam posisi yang sangat ideal untuk memenangi Liga Primer. Hasil imbang 3-3 yang dialami Manchester City saat menghadapi Everton membuat tim asuhan Arteta secara matematika mendapat keunggulan dua poin.
Dalam tiga pertandingan terakhir, Arsenal harus bisa meraih angka penuh. Itu dimulai Minggu malam nanti saat bertandang ke Stadion Olimpiade London untuk menghadapi West Ham.
Arteta pantas untuk menurunkan materi seperti dua pertandingan terakhir yang membuktikan mereka bisa bangkit dari keterpurukan. Faktor keberuntungan Gyokeres harus dioptimalkan karena ‘the Gunners’ membutuhkan gol kemenangan.
Gyokeres sudah berulang kali membuktikan keberuntungan tersebut. Itu termasuk ketika membawa Swedia meraih tiket ke Piala Dunia 2026 melalui gol pada menit terakhir ke gawang Polandia.
Tim sehebat apa pun bisa kalah dari tim yang beruntung. Dalam sepak bola dewi fortuna tidak bisa terhindarkan dan sangat dibutuhkan. Lionel Messi bisa mengangkat Piala Dunia 2022 karena ada faktor keberuntungan sebab kalau saja tendangan first time penyerang Prancis Kolo Muani tidak mengenai kaki kiper Emiliano Martinez, tidak pernah ada drama adu tendangan penalti itu.
Satu hal yang harus diperhatikan Arsenal, West Ham yang mereka hadapi ialah ‘singa’ yang sedang terluka. Prestasi mereka sedang terpuruk dan berada dalam zona degradasi. Bagi West Ham, tiga pertandingan terakhir akan menentukan apakah musim mendatang mereka masih di Liga Primer atau terdegradasi ke Liga Satu.
Dengan Jarred Bowen, Callum Wilson, Niclas Fuellkrug, dan Adama Traore, West Ham memiliki kualitas pemain yang baik. Kalau Nuno Espirito Santo mampu mengemas tim yang solid, West Ham akan bisa membuyarkan mimpi Arsenal.
