Wednesday, September 23

Ekonom Nilai Keputusan BI Pertahankan BI Rate 5,75 Persen Langkah Seimbang


BI mempertahankan suku bunga 5,75%.(Dok. Antara)

PENELITI Center of Reform on Economics (CoRE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75% pada Rabu (23/9/2026) sebagai langkah yang seimbang. Kebijakan ini dianggap tepat di tengah kondisi inflasi yang masih terkendali dan perlunya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Yusuf menjelaskan bahwa keputusan tersebut bukan sekadar bentuk kehati-hatian setelah kenaikan suku bunga kumulatif 100 basis poin pada periode Mei dan Juni lalu. Menurutnya, meskipun inflasi mengalami peningkatan, posisinya masih berada dalam rentang sasaran BI, dengan inflasi inti yang relatif terjaga.

“Pertumbuhan kredit dan aktivitas ekonomi saat ini masih cukup terjaga. Dalam kondisi seperti ini, menaikkan suku bunga lagi berisiko memberi tekanan tambahan pada pembiayaan investasi dan konsumsi tanpa menghasilkan manfaat yang sebanding bagi stabilitas nilai tukar,” ujar Yusuf saat dihubungi, Rabu (23/9).

Terkait nilai tukar Rupiah, Yusuf berpendapat bahwa level BI Rate 5,75% cukup membantu meredam tekanan jangka pendek. Namun, ia menekankan bahwa suku bunga tidak bisa menjadi satu-satunya instrumen pertahanan mata uang domestik.

Ia memaparkan bahwa pergerakan Rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti arah kebijakan The Fed, dinamika harga energi, dan ketidakpastian geopolitik global. Oleh karena itu, suku bunga harus dilihat sebagai bagian dari bauran kebijakan yang lebih luas, bukan instrumen tunggal penentu stabilitas kurs.

Selain kebijakan suku bunga, Yusuf mengapresiasi langkah BI memperkuat insentif swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Langkah ini dinilai strategis untuk memperbesar insentif bagi investor dan pelaku usaha dalam melakukan lindung nilai (hedging) di pasar domestik sekaligus menjaga likuiditas valas.

“Ketika biaya lindung nilai menjadi lebih menarik dan cakupan transaksinya diperluas, peluang masuknya dana asing dan bertahannya aliran modal di aset Rupiah ikut meningkat. Dari sisi stabilitas pasar, langkah ini lebih efisien dibanding hanya mengandalkan kenaikan suku bunga,” ungkapnya.

Kendati demikian, Yusuf mengingatkan bahwa efektivitas kebijakan pasar valas tetap memiliki batas. Insentif tersebut dapat mengurangi volatilitas, namun tidak bisa sepenuhnya menghilangkan sensitivitas Rupiah terhadap sentimen global yang dinamis.

Ia menyimpulkan bahwa keberhasilan kebijakan BI lebih tepat diukur dari kemampuannya meredam gejolak agar tidak menjadi tekanan berkepanjangan, bukan sekadar menjaga Rupiah pada satu level tertentu di tengah ketidakpastian pasar keuangan dunia. (Z-10)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *