Wednesday, September 23

Hipertensi Masih Jadi Ancaman Senyap, Deteksi Dini Dinilai Penting


Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pemantauan kesehatan mandiri perlu didukung dengan perangkat yang mudah digunakan dan terjangkau.(Dok. Omron Healthcare Indonesia)

STROKE masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat angka kematian akibat stroke di Indonesia pada 2021 mencapai 140,8 per 100.000 penduduk, sementara penyakit jantung iskemik mencapai 90,4 per 100.000 penduduk. Hipertensi menjadi faktor risiko utama bagi kedua penyakit tersebut.

Masalahnya, hipertensi kerap tidak menimbulkan gejala sehingga banyak penderita baru menyadari kondisinya setelah muncul komplikasi serius seperti stroke, gagal ginjal, atau penyakit jantung. Kondisi tersebut membuat hipertensi sering disebut sebagai silent killer.

Di Indonesia, sekitar satu dari tiga orang dewasa hidup dengan hipertensi. Namun, sebagian besar penderita belum melakukan pemantauan tekanan darah secara rutin, termasuk pemeriksaan mandiri di rumah. Padahal, keterlambatan mendeteksi hipertensi dapat meningkatkan risiko komplikasi dan beban biaya kesehatan yang tidak sedikit.

Selain risiko kesehatan, stroke juga dinilai membawa dampak ekonomi besar bagi keluarga. Biaya rawat inap, rehabilitasi, obat-obatan, hingga hilangnya produktivitas kerja menjadi tantangan yang kerap muncul ketika pasien mengalami komplikasi penyakit kardiovaskular.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan selama ini mendorong kampanye CERDIK, yakni Cek kesehatan berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres sebagai langkah pencegahan penyakit tidak menular.

Ketua Indonesian Society of Hypertension (InaSH), dr. Eka Harmeiwaty, Sp.S, mengatakan pengukuran tekanan darah secara benar dan akurat menjadi langkah penting dalam mendeteksi hipertensi maupun memantau efektivitas pengobatan.

“Hipertensi sering tidak bergejala, tetapi dampaknya bisa sangat serius, termasuk komplikasi stroke, penyakit jantung, gagal ginjal, kebutaan, dan kepikunan. Pengukuran tekanan darah mandiri di rumah sangat dianjurkan untuk memonitor hasil pengobatan,” ujarnya.

Menurut Eka, penggunaan alat pengukur tekanan darah yang tervalidasi klinis dan dapat dikalibrasi ulang penting untuk memastikan hasil pengukuran tetap akurat. Ia juga menyoroti risiko gangguan irama jantung atrial fibrillation (AFib) pada pasien hipertensi. Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko stroke dan gagal jantung apabila tidak terdeteksi sejak dini.

“Pasien hipertensi dengan AFib berisiko tinggi terkena stroke dan gagal jantung. Karena karakter AFib yang dapat muncul dan hilang, pemantauan rutin menjadi penting untuk deteksi dini,” katanya.

Momentum Hari Hipertensi Sedunia tahun ini turut dimanfaatkan sejumlah perusahaan alat kesehatan untuk memperkuat edukasi mengenai pentingnya pemantauan tekanan darah secara berkala di rumah. Salah satunya dilakukan Omron Healthcare Indonesia yang meluncurkan tensimeter Seri EZ dan IQ di Indonesia. Perangkat tersebut dirancang untuk mempermudah pengukuran tekanan darah hanya melalui satu sentuhan.

Director Omron Healthcare Indonesia, Tomoaki Watanabe, mengatakan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pemantauan kesehatan mandiri perlu didukung dengan perangkat yang mudah digunakan dan terjangkau. “Melalui seri ini, kami ingin memudahkan masyarakat memantau tekanan darah secara akurat, cepat, dan nyaman dari rumah,” ujarnya.

Omron menyebut seri EZ ditujukan bagi pengguna yang membutuhkan fungsi dasar pengukuran tekanan darah dengan fitur pengoperasian sederhana. Seri tersebut dilengkapi teknologi IntelliSense untuk membantu proses pengukuran lebih cepat, nyaman, dan hemat energi dibanding generasi sebelumnya.

Perusahaan juga menyasar kelompok usia muda dan profesional yang mulai membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini. Hal tersebut dinilai penting di tengah meningkatnya kasus penyakit tidak menular pada usia produktif.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan proporsi pasien usia 25–34 tahun yang menjalani hemodialisis mencapai 31,4% dari total penderita penyakit ginjal kronis. Hipertensi disebut menjadi salah satu faktor risiko utama gangguan ginjal kronis.

Sementara itu, seri IQ menyasar pengguna yang membutuhkan fitur pemantauan lebih lanjut, termasuk deteksi indikasi atrial fibrillation melalui teknologi IntelliSense AFib berbasis artificial intelligence (AI). Perangkat tersebut juga dilengkapi layar berukuran lebih besar serta teknologi IntelliWrap 360° untuk membantu meminimalkan kesalahan pemasangan manset saat pengukuran tekanan darah.

Dalam peluncuran produk tersebut, sejumlah figur publik turut membagikan pengalaman terkait penyakit kardiovaskular. Penyiar radio dan pegiat budaya Iwet Ramadhan mengaku pernah mengalami stroke meski merasa menjalani pola hidup sehat. 

“Kalau saya yang merasa sehat saja bisa terkena stroke, berarti siapa pun harus lebih waspada. Jangan tunggu gejala datang, cek kesehatan secara rutin itu penting,” ujarnya.

Sementara itu, presenter dan penyiar radio Dave Hendrik juga membagikan pengalamannya menghadapi serangan jantung yang datang tanpa gejala yang disadari sebelumnya. 

“Kita sering merasa baik-baik saja sampai akhirnya terlambat sadar. Dari pengalaman saya, memantau kesehatan secara rutin bisa jadi langkah sederhana yang sangat berarti,” katanya.

Selain meluncurkan produk baru, Omron Healthcare Indonesia pada 2026 juga memperluas jaringan Omron Experience Center (OEC) menjadi 12 kota di Indonesia untuk mendukung layanan edukasi, konsultasi produk, servis, hingga kalibrasi perangkat kesehatan.

Pakar kesehatan menilai kebiasaan sederhana seperti memeriksa tekanan darah secara rutin di rumah dapat menjadi langkah awal untuk menekan risiko penyakit kardiovaskular yang selama ini masih menjadi tantangan besar kesehatan masyarakat Indonesia. (E-1)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *