
INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali perdagangan Jumat dengan penguatan, sejalan dengan pergerakan positif mayoritas bursa saham Asia dan global. Sentimen pasar ditopang oleh meredanya kekhawatiran terhadap risiko geopolitik di Timur Tengah.
IHSG naik 50,14 poin atau 0,78% ke level 6.512,57 pada pembukaan perdagangan. Penguatan juga terjadi pada kelompok 45 saham unggulan yang tercermin dari indeks LQ45, yang bertambah 0,41 poin atau 0,06% menjadi 648,79.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan, pergerakan IHSG masih perlu mencermati sejumlah level teknikal.
“Apabila IHSG gagal bertahan di atas support 6.431-6.377, tekanan koreksi berpotensi berlanjut menuju 6.290. Sebaliknya, apabila terjadi rebound, IHSG perlu kembali menembus 6.511-6.523, dilanjutkan 6.552-6.591 sebagai resistance terdekat sebelum menguji area 6.723,” kata Liza dalam kajiannya di Jakarta, Jumat (18/9).
Dari pasar global, risiko geopolitik di Timur Tengah mulai mereda. Kondisi tersebut mengurangi kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan energi sekaligus meningkatkan ekspektasi terhadap penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
Arab Saudi menargetkan sekitar separuh kapasitas pipa East-West dapat kembali beroperasi dalam beberapa hari. Pemulihan hingga kapasitas penuh diperkirakan membutuhkan waktu sekitar enam pekan.
Saudi Arabia juga mengalihkan sebagian pengiriman minyak melalui Selat Hormuz sebagai langkah untuk menekan risiko gangguan distribusi. Di sisi lain, China dilaporkan mendorong Iran untuk membantu meredakan aktivitas kelompok Houthi setelah mendapat permintaan dari Riyadh.
Sentimen pasar turut membaik setelah pelaku pasar mulai mengalihkan perhatian dari dampak keputusan Federal Reserve (The Fed) dan mencermati penurunan imbal hasil atau yield obligasi jangka panjang.
Kinerja saham teknologi yang menguat juga menjadi salah satu penopang pergerakan pasar saham global.
“Investor juga menilai kenaikan suku bunga yang telah diantisipasi sebelumnya telah mengurangi ketidakpastian jangka pendek terkait arah kebijakan moneter,” ujar Liza.
Sebelumnya, The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4,00% dari sebelumnya 3,50%-3,75% melalui keputusan bulat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC).
Proyeksi terbaru menunjukkan sedikitnya 12 anggota FOMC masih memperkirakan terdapat ruang untuk satu kali kenaikan suku bunga tambahan pada tahun ini.
Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan inflasi masih berada pada level yang terlalu tinggi dan belum memperlihatkan perbaikan signifikan. Karena itu, stabilitas harga tetap menjadi perhatian utama dalam arah kebijakan moneter.
Bursa Global Menguat
Penguatan juga mewarnai perdagangan saham Eropa pada Kamis (17/9). Indeks FTSE 100 Inggris naik 1,2% ke atas level 10.815, sedangkan DAX Jerman bertambah 0,7% menjadi 25.717.
Indeks CAC 40 Prancis menguat 0,6% ke 8.188, FTSE MIB Italia naik 0,8% menjadi 52.386, dan Stoxx Europe 600 meningkat 0,86% ke 642,60.
Dari Amerika Serikat, tiga indeks utama Wall Street juga ditutup di zona hijau. S&P 500 naik 1,1% ke 7.637,95, Nasdaq Composite menguat 1,7% ke 26.418,30, sementara Dow Jones Industrial Average bertambah 0,6% ke 51.779,85.
Pergerakan positif turut terlihat di sejumlah bursa saham Asia pada perdagangan Jumat pagi. Nikkei Jepang naik 0,85% ke 64.681,00, Shanghai Composite Tiongkok menguat 0,75% ke 3.904,68, dan Hang Seng Hong Kong bertambah 0,54% ke 24.376,76.
Kospi Korea Selatan menjadi salah satu penguat terbesar dengan kenaikan 2,06% ke 6.853,52. Sementara itu, Straits Times Singapura bergerak berlawanan arah dengan melemah 0,35% ke 5.640,60. (Ant/E-4)
