
PEMERINTAH Inggris mengumumkan komitmen besar untuk bergabung dalam misi multinasional guna mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Langkah ini diambil di tengah ketegangan global yang menyebabkan harga energi melonjak akibat blokade di salah satu jalur minyak tersibuk di dunia tersebut.
Menteri Pertahanan John Healey mengumumkan paket bantuan militer tersebut dalam pertemuan puncak virtual para menteri pertahanan pada Selasa waktu setempat. Inggris akan mengerahkan sistem otonom pendeteksi ranjau laut, kapal tanpa awak (drone boats), serta jet tempur Typhoon untuk patroli udara.
Misi ini melibatkan lebih dari 40 negara dan direncanakan akan dimulai segera setelah kondisi memungkinkan. Saat ini, Selat Hormuz berada di bawah kendali Iran sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat dan Israel. Di sisi lain, AS juga menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran guna menekan Teheran.
Fokus pada Pertahanan dan Keamanan Pelayaran
Kementerian Pertahanan Inggris menegaskan misi ini bersifat murni defensif. Fokus utamanya adalah memulihkan kepercayaan pengiriman komersial di jalur yang membawa sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia tersebut.
Inggris telah mengalokasikan dana baru sebesar £115 juta untuk pengadaan drone pemburu ranjau dan sistem anti-drone.
“Bersama sekutu kami, misi multinasional ini akan bersifat defensif, independen, dan kredibel,” ujar Healey dalam pernyataan resminya.
Sebagai bagian dari kekuatan tempur, kapal perusak pertahanan udara HMS Dragon kini tengah dalam perjalanan menuju Timur Tengah. Selain itu, kapal RFA Lyme Bay juga terus diperbarui dengan peralatan baru untuk mendukung operasi jika diperlukan. Saat ini, terdapat lebih dari 1.000 personel Inggris yang telah ditempatkan di kawasan tersebut.
Situasi Politik Dalam Negeri
Pengumuman ini muncul di tengah gejolak politik dalam negeri Inggris. John Healey menyatakan dukungannya kepada Perdana Menteri Sir Keir Starmer, yang saat ini menghadapi desakan mundur dari puluhan anggota parlemen Partai Buruh.
Melalui unggahan di media sosial X, Healey menegaskan bahwa Sir Keir sedang memimpin negara melewati krisis global yang membayangi. “Ketidakstabilan lebih lanjut tidak menguntungkan Inggris. Fokus penuh kita sekarang harus tertuju pada penanganan tantangan ekonomi dan keamanan yang mendesak,” tulisnya.
Dalam pertemuan kabinet, PM Starmer memilih fokus pada dampak konflik di Timur Tengah. Juru bicara Downing Street menyatakan bahwa prioritas nomor satu pemerintah saat ini adalah membuka kembali Selat Hormuz agar pelayaran internasional dapat dilanjutkan.
Meski terlibat dalam misi pengamanan, Sir Keir Starmer sebelumnya menegaskan bahwa Inggris tidak akan membiarkan diri “terseret” lebih jauh ke dalam konflik. Ia juga menyatakan bahwa Inggris tetap pada posisi tidak mendukung langkah blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. (BBC/Z-2)
