
INGGRIS resmi menaikkan tingkat ancaman terorisme nasional menjadi “Severe” (Gawat) pada hari ini. Keputusan ini diambil menyusul insiden penikaman terhadap dua pria Yahudi di Golders Green, London Utara, pada Rabu (29/4). Status ini menandakan serangan teror dianggap “sangat mungkin terjadi” (highly likely).
Pemerintah menyatakan bahwa peningkatan status ini tidak semata-mata disebabkan insiden di Golders Green, melainkan karena eskalasi ancaman yang telah “meningkat selama beberapa waktu”.
Respon Pemerintah dan Janji PM Keir Starmer
Berbicara dari Downing Street, Perdana Menteri Keir Starmer berjanji akan mengambil serangkaian langkah tegas untuk memberantas antisemitisme. Langkah tersebut mencakup penguatan kehadiran polisi di komunitas Yahudi serta percepatan wewenang di Parlemen untuk menangani ancaman yang disponsori negara.
Dalam pidatonya, Starmer juga mendesak masyarakat Inggris untuk lebih peduli terhadap penderitaan komunitas Yahudi. “Buka mata terhadap rasa sakit warga Yahudi,” tegasnya saat mengunjungi lokasi kejadian di Golders Green.
Kondisi Korban: “Tuhan Memberikan Kembali Hidup Saya”
Dua korban dalam serangan tersebut diidentifikasi sebagai Shloime Rand, 34, dan Moshe Shine, 76. Shloime Rand, yang menderita luka tusuk di dada, telah diizinkan pulang dari rumah sakit.
“Saya merasa seolah Tuhan telah memberikan kembali hidup saya,” ujar Rand kepada BBC. Ia menceritakan bagaimana dirinya berhasil melompat mundur saat serangan terjadi. Namun, ketika ditanya apakah pemerintah sudah cukup menangani antisemitisme, ia menjawab singkat: “Jelas belum.”
Sementara itu, Moshe Shine masih menjalani perawatan di rumah sakit dalam kondisi stabil. Rekan-rekan Shine menggambarkannya sebagai sosok yang jujur dan pendiam. Tim medis optimis pria asal Hendon tersebut akan pulih sepenuhnya.
Profil Tersangka
Tersangka diidentifikasi sebagai Essa Suleiman, 45, warga London Tenggara yang merupakan warga negara Inggris keturunan Somalia. Suleiman diketahui datang ke Inggris secara legal pada awal 1990-an.
Pihak Kepolisian Metropolitan mengungkapkan bahwa pada tahun 2020, Suleiman pernah dirujuk ke program pencegahan terorisme “Prevent”. Namun, kasusnya ditutup pada akhir tahun yang sama.
Protes di Downing Street
Meski PM Starmer telah memberikan pidato yang kuat, gelombang protes tetap terjadi. Massa berkumpul di luar Downing Street menuntut “tindakan nyata”, bukan sekadar janji. Aksi ini diorganisir oleh Campaign Against Antisemitism (CAA).
Stephen Silverman dari CAA menuduh pemerintah selama ini melakukan pembiaran terhadap kebencian fanatik. “Kita belum melihat tindakan berarti yang memiliki konsekuensi nyata bagi para pelaku,” ujarnya.
Rasa tidak aman kian meluas di kalangan komunitas Yahudi Inggris. Salah seorang pria Yahudi mengatakan kepada BBC bahwa ia memutuskan meninggalkan Salford untuk pindah ke Israel. “Saya tidak lagi merasa aman berjalan di jalanan di sini,” pungkasnya. (BBC/Z-2)
