
GARDA Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan pada Kamis (14/5) bahwa pasukan angkatan laut mereka mengizinkan sejumlah kapal Tiongkok untuk melintasi Selat Hormuz yang strategis. Langkah ini menandai pelonggaran blokade pertama sejak ketegangan meningkat di wilayah tersebut.
Iran memblokade sebagian besar lalu lintas pelayaran melalui selat vital tersebut sejak pecahnya perang dengan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu. Dalam kondisi normal, jalur ini merupakan urat nadi energi dunia yang mengangkut sekitar seperlima dari pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global, serta berbagai komoditas utama lain.
Protokol Manajemen Selat
Dalam pernyataan resmi, Garda Revolusi–sayap ideologis militer Iran–menyatakan bahwa keputusan ini diambil setelah ada kesepakatan mengenai prosedur teknis tertentu.
“Akhirnya disimpulkan bahwa sejumlah kapal Tiongkok yang diminta oleh negara tersebut akan melewati area ini setelah ada kesepakatan mengenai protokol manajemen selat Iran,” tulis pernyataan IRGC. Pihak militer menambahkan bahwa proses perlintasan tersebut dimulai sejak Rabu malam waktu setempat.
Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa lebih dari 30 kapal diizinkan melintas. Meski demikian, belum ada konfirmasi resmi apakah seluruh kapal tersebut berbendera Tiongkok atau membawa muatan milik Beijing.
Kontrol ketat Iran atas Selat Hormuz mengguncang pasar global dan memberikan daya tawar signifikan bagi Teheran. Di sisi lain, Amerika Serikat juga menerapkan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai langkah balasan.
Pertemuan Trump dan Xi Jinping
Momentum pembukaan jalur bagi kapal Tiongkok ini menjadi sorotan karena bertepatan dengan kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Tiongkok. Trump bertemu dengan Presiden Xi Jinping pada Kamis untuk melakukan pembicaraan tingkat tinggi.
Agenda pertemuan kedua pemimpin negara adidaya tersebut dilaporkan mencakup pembahasan mengenai perang Iran yang tengah berlangsung. Para analis menilai langkah Teheran memberikan akses bagi kapal Tiongkok merupakan sinyal diplomatik kuat di tengah tekanan blokade ekonomi dan militer yang kian intens. (AFP/I-2)
