Tuesday, September 22

Israel Sita Lebih dari 40 Kapal Armada Global Sumud Menuju Gaza


Ilustrasi(Dok AFP)

MILITER Israel dilaporkan menyita lebih dari 40 dari total 54 kapal yang tergabung dalam armada kemanusiaan Global Sumud yang tengah berlayar menuju Jalur Gaza pada Selasa (19/5).

Media Israel, Walla, melaporkan sekitar 300 aktivis turut ditahan dalam operasi tersebut dengan mengutip sumber keamanan yang tidak disebutkan identitasnya.

Laporan itu juga menyebut angkatan laut Israel belum sepenuhnya mencegat seluruh armada. Sejumlah kapal dilaporkan masih berada di laut lepas dan belum berhasil dihentikan.

Operasi penyitaan ini terjadi sehari setelah militer Israel melancarkan serangan terhadap armada pembawa bantuan kemanusiaan di perairan internasional pada Senin. Tindakan tersebut memicu kecaman luas dari berbagai pihak internasional.

Armada Global Sumud yang terdiri dari 54 kapal berlayar dari Marmaris, Turki, pada Kamis dalam upaya terbaru menembus blokade yang diberlakukan Israel terhadap Gaza sejak 2007.

Insiden serupa sebelumnya juga pernah terjadi pada akhir April. Saat itu, pasukan Israel mencegat kapal-kapal armada di perairan internasional lepas pantai Pulau Kreta, Yunani.

Konvoi tersebut kala itu membawa 345 peserta dari 39 negara, termasuk sejumlah warga negara Turki.

Dalam operasi itu, pasukan Israel menyita 21 kapal yang mengangkut sekitar 175 aktivis, sementara kapal lainnya melanjutkan pelayaran menuju perairan teritorial Yunani.

Sebagian besar aktivis kemudian dibebaskan di perairan internasional. Namun dua orang, masing-masing seorang aktivis asal Spanyol dan Brasil, sempat dibawa ke pusat penahanan di Israel sebelum akhirnya dideportasi.

Situasi kemanusiaan di Gaza terus memburuk di tengah pembatasan bantuan yang diberlakukan Israel. Sekitar 2,4 juta warga Palestina, termasuk sekitar 1,5 juta pengungsi, dilaporkan hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Otoritas setempat menyebut lebih dari 72.700 orang tewas dan lebih dari 172.700 lainnya terluka selama konflik yang berlangsung dua tahun terakhir, dengan mayoritas korban merupakan perempuan dan anak-anak. Kondisi tersebut juga diperparah oleh ancaman kelaparan yang semakin meluas.

Meski gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025, otoritas lokal menuduh Israel masih terus membatasi akses bantuan kemanusiaan dan melancarkan serangan harian.

Menurut data otoritas setempat, sedikitnya 877 warga Palestina tewas dan 2.602 lainnya terluka sejak pengumuman gencatan senjata tersebut. (Anadolu/E-4)

 



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *