
APARAT kepolisian Irlandia Utara terpaksa melepaskan tembakan water cannon pada Rabu malam waktu setempat guna membubarkan massa yang berkumpul untuk malam kedua berturut-turut. Otoritas Inggris menuding aktivis sayap kanan sebagai dalang yang menyulut kemarahan publik melalui media sosial pasca-insiden penusukan brutal di Belfast.
Meski titik-titik kerusuhan utama dari malam sebelumnya terpantau lebih tenang, puluhan pria dilaporkan tetap nekat mengonfrontasi polisi di salah satu kawasan. Mereka melemparkan proyektil seperti batu dan botol, serta membakar ban di tengah jalan. Langkah ini memaksa barisan mobil van kepolisian dan petugas antihuru-hara memundurkan kerumunan di sebuah bundaran utara Belfast.
“Massa telah berkumpul dan proyektil dilemparkan ke arah petugas yang kini telah mengerahkan water cannon sebagai upaya untuk menjaga ketertiban umum,” ungkap pihak kepolisian dalam sebuah pernyataan resmi.
Akibat situasi yang mencekam ini, pusat kota Belfast dilaporkan lumpuh total sejak sore hari. Restoran, toko, sekolah, hingga transportasi publik ditutup demi menghindari terulangnya kerusuhan besar seperti malam sebelumnya, di mana para perusuh bermasker membakar kendaraan dan bangunan hingga memaksa sejumlah keluarga mengungsi. Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, mengutuk keras kejadian ini dan menyebutnya sebagai aksi yang “mengerikan dan sama sekali tidak bisa diterima”.
Dipicu Insiden Penusukan Brutal
Gelombang protes ini bermula setelah Stephen Ogilvie menjadi korban penusukan fatal pada Senin malam. Akibat serangan itu, korban kehilangan satu matanya dan masih dalam kondisi kritis di rumah sakit.
Keluarga korban sendiri telah meminta masyarakat untuk tetap tenang. Mereka memperingatkan agar “tragedi mengerikan” ini tidak digunakan untuk “memecah belah orang atau memicu permusuhan.”
Terduga pelaku, Hadi Alodid, 30, seorang pengungsi asal Sudan yang memegang izin tinggal resmi hingga 2028, telah dihadirkan di Pengadilan Magistrat Belfast pada Rabu pagi. Ia didakwa atas percobaan pembunuhan dan langsung ditahan hingga persidangan berikutnya pada 8 Juli.
Hoaks Media Sosial dan Sentimen Anti-Imigran
Rekaman video insiden penusukan yang beredar luas di internet dimanfaatkan oleh akun-akun kelompok yang menamakan diri mereka “patriot”. Mereka menyebarkan provokasi dan mendesak masyarakat untuk “memprotes imigrasi massal di komunitas mereka”.
Ketua Partai Buruh yang berkuasa di Inggris, Anna Turley, menyatakan bahwa platform online turut andil dalam mendorong kerusuhan ini. Ia bahkan menyindir pemilik platform X, Elon Musk, sebagai salah satu “aktor beritikad buruk” yang memperkeruh suasana setelah Musk membagikan ulang unggahan aktivis anti-imigrasi, Tommy Robinson.
Dampak dari provokasi ini sangat nyata di lapangan. Menteri Inggris, Ruth Anderson, mengungkapkan bahwa sebanyak 27 orang terpaksa kehilangan tempat tinggal.
“Karena orang-orang mendatangi rumah demi rumah untuk mengincar warga negara asing. Saya hanya bisa membayangkan ketakutan mereka,” tutur Anderson.
Hingga saat ini, polisi Belfast telah menangkap tiga orang terkait kerusuhan tersebut. Kerusuhan serupa juga sempat merembet ke kota Glasgow, Skotlandia, yang mengakibatkan tiga orang ditangkap serta melukai petugas kepolisian dan warga sipil. (AFP/Z-2)
