
DARI sebuah rumah sederhana di pelosok Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, nama Jumaria kini menggema di Tanah Suci sebagai ikon inspiratif Haji 2026. Perempuan lansia sukses melintasi batas ketidakmungkinan, menabung selama 20 tahun di dalam ember dari upah buruh tani, hingga kini wajah keteguhannya menghiasi layar promosi haji internasional di Arab Saudi.
Jumaria justru menjadi wajah haji Indonesia di Saudi. Dia viral usai Otoritas Keimigrasian Kerajaan Arab Saudi mengunggah kisahnya untuk berhaji di kanal medsos @makkahroute.
“Saya senang bisa melihat Kabah,” ucapnya lirih kepada tim Media Center Haji di wilayah Jarwal, Mekah, tempat ia menginap. Air matanya kembali tumpah saat mengingat momen indah itu.
Harapan yang ia gantungkan sejak puluhan tahun silam untuk menginjakkan kaki di Baitullah akhirnya terwujud. Perempuan yang ingatan usianya sudah samar, hanya mengingat di kisaran 70-an tahun, ini telah puluhan tahun hidup sebatang kara. Sehari-hari, ia menyambung hidup dengan mengurus sawah miliknya dan kebun milik tetangga.
Aktivitas Jumaria bergulir sejak fajar. Usai salat subuh, ia memberi makan ayam-ayam peliharaannya, membersihkan rumah, lalu menyantap sarapan dari hasil masakannya sendiri. Setelah itu, ia mulai beranjak ke kebun untuk merawat tanaman ubi milik tetangga demi upah yang tidak seberapa.
Langkah kakinya kemudian berlanjut ke sawah yang terletak sekitar 50 meter dari rumah untuk menyiangi tanaman padi. Ritme kerja keras itu ia lakoni secara mandiri setiap hari.
“Saya tanam sendiri, rawat sendiri, panen sendiri. Dulu pakai alat itu (sabit), kalau sekarang sudah dibantu mesin,” lanjutnya.
Meski tinggal sendiri, Jumaria sadar betul bahwa Sang Pencipta selalu menemani langkahnya. Hal itulah yang menebalkan tekadnya untuk bertamu ke rumah Tuhan dengan segala daya upaya yang ia miliki. Sejak dua dekade lalu, tekad itu diwujudkan dengan mulai menyisihkan uang.
“Uang ku kumpulkan sedikit demi sedikit,” ujarnya.
“Simpan (uang) di bawah ranjang, (ditaruh di ember),” lanjutnya.
Setelah tabungan di dalam ember tersebut menyentuh angka Rp25 juta pada 2011, ia memantapkan diri mendaftar haji didampingi keponakanya. Keterbatasan karena tidak bisa baca-tulis dan tidak pernah mengenyam bangku sekolah bukan menjadi aral. Usai mendaftar, ia kian giat menabung untuk melunasi sisa biaya keberangkatan.
“Kalau dapat Rp110 ribu, saya simpan Rp50 ribu,” kata Jumaria sembari mengusap air mata dengan kerudungnya.
Begitu namanya resmi diumumkan sebagai salah satu jemaah haji 2026, semangat Jumariyah kian berlipat. Ia konsisten mengikuti lebih dari 80 kali manasik haji bersama Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU). Jarak lokasi manasik yang mencapai 15 kilometer dari rumahnya tidak pernah menjadi alasan untuk absen. Kedisiplinannya duduk di barisan terdepan saat mendengarkan penjelasan muthawwif membuat hampir seluruh anggota KBIHU mengenalnya.
Profil keteguhan Jumaria akhirnya sampai ke Kementerian Haji dan Umrah. “Pertimbangannya karena kesehariannya. Dia hidup sendiri, sebatang kara, kemudian jauh (terpencil), menginspirasi,” terang Ketua Kloter UPG 14, Sitti Hawaisyah.
Dua hari menjelang keberangkatan ke Asrama Haji, tepatnya 28 April lalu, tim dokumentasi bertandang ke kediaman sederhananya. Hanya butuh waktu empat jam untuk merekam rangkaian perjalanan hidup Jumariyah. Rekaman audiovisual singkat tersebut kemudian bertransformasi menjadi film dokumenter resmi yang digunakan sebagai bagian dari media promosi internasional oleh otoritas Arab Saudi untuk menyambut musim Haji 2026.
Tiga hari berselang, untuk kali pertama dalam hidupnya, Jumaria ,erasakan terbang dengan pesawat terbang menuju Madinah, kota tempat makam Nabi Muhammad SAW berada.
“Pertama saya degdegan, kenapa saya bisa naik (pesawat) toh, lama-lama biasa,” ujarnya.
Di Madinah, stamina perempuan lanjut usia ini justru kian membara. Ia kuat berdiam di Masjid Nabawi sejak berkumandangnya azan asar hingga tuntasnya ibadah salat isya berjemaah.
“Saya juga sudah ke Raudhah,” ucap juwariyah. Karena tidak memiliki ponsel pintar, keberangkatan Jumariyah diselipkan di dalam rombongan jemaahnya saat bergerak bersama menuju taman surga tersebut.
Ketangguhan fisik itu kembali ia tunjukkan saat tiba di Mekah pada Sabtu (9/5). Jumariyah langsung menyelesaikan umrah wajib dan sunnah. Sepanjang menjalani prosesi ibadah yang menguras fisik tersebut, ia sama sekali tidak mengeluhkan sakit.
Kini, Jumaria tengah bersiap menyambut puncak ibadah haji, yakni wukuf di Arafah. Di hamparan padang pasir tersebut, ia akan bersimpuh pasrah, membawa seluruh kerinduan dan doa-doa yang telah ia gaungkan dari dalam rumah kecilnya sejak puluhan tahun silam. (E-4)
