Sunday, October 4

Krisis Overpopulasi Populasi Bumi Harus Berkurang Miliaran pada 2200


Ilustrasi.(Magnific)

SELAMA lebih dari satu abad, konsumsi berlebihan terhadap bahan bakar fosil menyembunyikan dampak nyata dari ledakan populasi manusia terhadap planet ini. Namun, peringatan keras muncul dari komunitas ilmiah: Bumi tidak lagi mampu mengimbangi cara manusia menggunakan sumber daya.

Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research Letters mengungkapkan bahwa ketidakseimbangan ini dapat memicu kerawanan pangan akut dan masa depan yang tidak pasti, kecuali jika populasi Bumi berkurang miliaran orang pada tahun 2200.

Ilusi Pertumbuhan yang Didorong Bahan Bakar Fosil

Para ilmuwan meninjau catatan populasi historis dan model pertumbuhan ekologis selama dua abad terakhir. Mereka menyimpulkan bahwa meskipun inovasi teknologi sempat membuat produksi sumber daya sejalan dengan peningkatan populasi, titik balik terjadi pada awal 1960-an. Sejak saat itu, populasi manusia terus meroket, sementara sumber daya ekologis mulai menyusut.

Corey Bradshaw dari Flinders University, penulis utama studi tersebut, menyatakan bahwa Bumi tidak dapat mendukung permintaan saat ini tanpa perubahan besar. “Temuan kami menunjukkan bahwa kita mendorong planet ini lebih keras daripada yang bisa ia tanggung,” ujarnya dalam suatu pernyataan pers.

Penggunaan bahan bakar fosil yang terbatas selama ini dianggap sebagai penutup efek overshoot ekologis. Ekonomi modern yang didasarkan pada pertumbuhan tanpa henti sering kali mengabaikan batasan regeneratif planet karena bahan bakar fosil secara artifisial menutupi kesenjangan tersebut.

Sejarah Panjang Ketakutan Overpopulasi

Kekhawatiran mengenai kelebihan populasi bukanlah hal baru. Pada tahun 1798, ekonom Thomas Robert Malthus telah memprediksi katastrofe Malthusian saat pertumbuhan populasi melampaui produksi pertanian. Ketakutan ini memuncak pada tahun 1968 melalui buku The Population Bomb karya Paul dan Anne Erlich.

Kini, dengan populasi dunia yang diperkirakan mencapai 8,3 miliar jiwa, tekanan terhadap sistem global semakin nyata. Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) bahkan mencantumkan pertumbuhan populasi sebagai pendorong utama emisi gas rumah kaca.

Dampak Nyata: Dari Pangan hingga Pandemi

Krisis ekologi ini tidak selalu datang dalam bentuk kelaparan mendadak, melainkan melalui tekanan sistematis pada sistem pertanian. Beberapa indikator yang mulai terlihat antara lain:

  • Lonjakan harga pupuk buatan yang mengurangi hasil panen.
  • Meningkatnya risiko pandemi akibat kepadatan populasi.
  • Kesenjangan pendapatan yang semakin lebar dan penurunan kualitas hidup.

Dalam kondisi ekstrem, masyarakat mungkin akan dipaksa mengadopsi filosofi konsumsi seperti limitarianism, yang menetapkan batas egaliter pada sumber daya yang boleh dikonsumsi oleh satu orang.

Target Populasi 4 Miliar pada Tahun 2200

Meskipun populasi global diprediksi akan terus naik hingga 12,4 miliar pada tahun 2070, studi dalam jurnal Sustainable Development menyarankan agar populasi dunia menyusut kembali menjadi 4 miliar jiwa pada tahun 2200.

Pengurangan populasi secara bertahap dianggap sebagai langkah paling logis untuk menekan emisi CO2, penggunaan air tawar, ekstraksi mineral, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Para penulis studi mencatat bahwa menyusutnya populasi menjadi setengahnya dalam 170 tahun ke depan sebenarnya jauh lebih tidak mengganggu dibandingkan lonjakan populasi empat kali lipat yang terjadi pada abad lalu.

Namun, karena manusia tidak memiliki waktu 170 tahun untuk menyelesaikan krisis iklim yang mendesak, solusi jangka pendek tetap harus diprioritaskan: investasi pada teknologi berkelanjutan, mengakhiri ketergantungan pada bahan bakar fosil, dan membangun ekonomi yang selaras dengan batas kemampuan planet. (Popular Mechanics/I-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *