Wednesday, September 30

Mangkoenagoro X Dorong Warisan Budaya Jadi Infrastruktur Ekonomi Masa Depan Asia di Forum Ekonomi Dunia


KGPAA Mangkoenagoro X saat tampil di WEF AMNC 2026.(Dok.Istimewa)

KGPAA Mangkoenagoro X menegaskan bahwa warisan budaya harus dipandang sebagai infrastruktur ekonomi yang mampu menciptakan nilai berkelanjutan bagi pembangunan bangsa. Gagasan tersebut disampaikan saat menjadi pembicara dalam sesi “Catching Asia’s Beat” pada World Economic Forum Annual Meeting of the New Champions (WEF AMNC) 2026 di Dalian, Tiongkok, Rabu (24/6).

Dalam forum yang mempertemukan pemimpin industri, pembuat kebijakan, dan inovator global itu, Mangkoenagoro X menekankan bahwa keunggulan kompetitif Asia di masa depan tidak lagi hanya ditentukan oleh skala ekonomi dan efisiensi produksi, melainkan oleh kemampuan mengelola identitas dan kekayaan budaya menjadi nilai ekonomi.

“Budaya adalah infrastruktur. Bukan infrastruktur fisik, melainkan infrastruktur sosial. Budaya menciptakan kepercayaan, memperkuat identitas, dan membangun kohesi sosial. Pada akhirnya budaya juga mendorong ketahanan ekonomi,” kata Mangkoenagoro X di hadapan peserta forum.

WEF AMNC yang dikenal sebagai “Summer Davos” merupakan salah satu agenda tahunan bergengsi yang berfokus pada masa depan pertumbuhan ekonomi global, khususnya di Asia dan negara-negara berkembang. Kehadiran Mangkoenagoro X sebagai pembicara dinilai mencerminkan meningkatnya perhatian dunia terhadap peran institusi budaya dalam pembangunan ekonomi.

PEMAPARAN MANGKOENAGORO

Dalam pemaparannya, Mangkoenagoro X menyebut Asia tengah mengalami pergeseran paradigma pembangunan. Jika sebelumnya negara-negara berlomba melalui efisiensi dan kapasitas produksi, kini persaingan semakin ditentukan oleh identitas, nilai, dan keunikan yang dimiliki masing-masing bangsa.

Ia mencontohkan Indonesia yang memiliki potensi besar dari sektor ekonomi kreatif dan budaya. Pada 2025, sektor ekonomi kreatif menyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja atau hampir 19 persen dari total angkatan kerja nasional. Sementara sektor pariwisata diproyeksikan menyumbang lebih dari Rp1.800 triliun per tahun bagi perekonomian nasional dalam satu dekade mendatang.

Selain itu, Indonesia juga memiliki 13 elemen Warisan Budaya Takbenda yang telah diakui UNESCO. Menurut Mangkoenagoro X, pengakuan tersebut tidak hanya menunjukkan kekayaan tradisi, tetapi juga potensi ekonomi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Namun, ia menilai nilai terbesar budaya tidak hanya diukur dari pendapatan ekonomi yang dihasilkan. “Nilai ekonomi terbesar dari budaya bukanlah pendapatan pariwisata. Nilai terbesar itu adalah kepercayaan diri. Karena budaya memberi manusia pemahaman tentang siapa diri mereka. Dan ketika seseorang tahu siapa dirinya, ia menjadi lebih berani membayangkan dirinya bisa menjadi siapa,” ujarnya.

Menurut dia, identitas budaya yang kuat akan melahirkan kepercayaan diri kolektif yang kemudian mendorong ambisi, investasi, dan kemakmuran. Rantai hubungan tersebut menjadi fondasi penting bagi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

“Identitas menciptakan kepercayaan diri. Kepercayaan diri melahirkan ambisi. Ambisi menarik investasi. Investasi menciptakan kemakmuran,” katanya.

DIALOG MENTERI MONGOLIA

Dalam sesi tersebut, Mangkoenagoro X juga berdialog dengan Menteri Pengembangan Digital, Inovasi, dan Komunikasi Pemerintah Mongolia, Nomin Chinbat. Keduanya membahas bagaimana negara-negara Asia dapat memanfaatkan warisan budaya sebagai modal pembangunan modern.

Mangkoenagoro X menyebut Mongolia sebagai contoh keberhasilan dalam memadukan tradisi nomaden yang telah berlangsung ribuan tahun dengan agenda pembangunan masa kini. Selain Mongolia, Jepang dan Korea Selatan juga dinilai berhasil mengubah identitas budaya menjadi kekuatan ekonomi yang berdaya saing global.

Sebagai contoh konkret, Mangkoenagoro X memaparkan pengelolaan Pura Mangkunegaran di Solo yang telah berusia 269 tahun. Sepanjang 2024, kawasan tersebut mencatat lebih dari 120.000 kunjungan wisatawan.

Berbagai kegiatan budaya yang diselenggarakan Mangkunegaran juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Perayaan Tahun Baru Jawa Sura, misalnya, menghasilkan dampak ekonomi lebih dari US$1 juta dalam satu malam. Sementara ajang Mangkunegaran Run menciptakan perputaran ekonomi lebih dari US$4,5 juta dalam tiga hari penyelenggaraan.

FAKTOR PEMBEDA

Menutup paparannya, Mangkoenagoro X mengatakan budaya akan menjadi faktor pembeda yang semakin penting di era kecerdasan buatan dan globalisasi. Menurut dia, teknologi dan modal dapat dengan mudah direplikasi, tetapi identitas, keaslian, dan kepercayaan tidak dapat ditiru.

“Kota-kota yang menarik talenta adalah kota dengan identitas. Destinasi yang menarik wisatawan adalah destinasi yang memiliki cerita. Perekonomian yang mampu mempertahankan modal manusianya adalah perekonomian yang menawarkan makna dan rasa memiliki,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa ekonomi yang kompetitif pada masa depan bukan hanya yang mampu menghasilkan kekayaan, tetapi juga yang mampu membangun kepercayaan, makna, rasa memiliki, dan kepercayaan diri masyarakatnya. Menurutnya, Asia memiliki peluang besar untuk memimpin arah pembangunan tersebut melalui kekayaan budaya yang dimiliki. (E-2)

 



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *