
PERUBAHAN signifikan tengah terjadi di sektor arsitektur Indonesia. Hal ini ditandai dengan meningkatnya penggunaan material sintered stone sebagai alternatif permukaan.
Pergeseran ini dipicu oleh kebutuhan akan material yang tidak hanya unggul secara visual, tetapi juga mampu bertahan dalam kondisi iklim tropis yang ekstrem.
“Konsumen kini semakin cerdas, mereka tidak hanya melihat desain, tetapi juga daya tahan dan sustainability. Sintered stone hadir di titik temu antara estetika premium dan kebutuhan praktis sehari-hari,” kata Direktur Marketing Platinum Ceramics Group, Jali Wijaya, Minggu (3/5).
Indikasi penguatan tren ini terlihat dari pembukaan Titanium Sintered Stone Showroom di Semarang pada 14 April 2026. Fasilitas tersebut dirancang bukan sekadar ruang pamer, tetapi sebagai pusat eksplorasi desain yang menyasar kebutuhan arsitek, desainer, hingga pengembang proyek.
Showroom tersebut mengusung konsep “A Living Gallery Unveiled” dengan pendekatan desain Timeless Elegance. Penggunaan palet warna perak, abu-abu, dan dark tone menjadi bagian dari upaya menghadirkan citra kemewahan modern.
Secara industri, kehadiran produk ini didukung oleh Platinum Ceramics Group yang telah memiliki pengalaman 55 tahun di industri tile Indonesia. Kehadiran beberapa merek dalam satu atap juga dinilai memberi kemudahan bagi konsumen maupun pelaku proyek dalam memilih solusi material sesuai kebutuhan.
Dari sisi teknis, sintered stone menawarkan sejumlah keunggulan dibandingkan material konvensional seperti batu alam maupun marmer porus. Material ini memiliki tingkat kerataan tinggi, permukaan dengan kejernihan menyerupai cermin melalui teknologi GritTech+, tahan terhadap goresan dan noda, serta mudah dirawat tanpa memerlukan proses sealing berkala.
Selain itu, format big slab berukuran 120 x 240 cm memungkinkan penerapan desain seamless dengan sambungan minimal. Karakteristik ini membuat sintered stone semakin relevan untuk kebutuhan desain arsitektur modern.
Penggunaan sintered stone kini meluas ke dua sektor utama, yakni residensial dan komersial. Pada hunian tinggal, material ini banyak diaplikasikan untuk fasad eksterior, dinding aksen interior, hingga top table dapur yang membutuhkan ketahanan terhadap panas dan noda.
Sementara pada sektor komersial dan ruang publik, sintered stone digunakan sebagai elemen desain yang mencerminkan citra profesional dan modern. Salah satu contohnya terlihat pada Living Gallery Titanium Semarang yang berkolaborasi dengan coffee shop Blue Doors, sehingga ruang tersebut dapat menjadi tempat eksplorasi ide bagi arsitek dan desainer.
“Showroom Titanium dihadirkan sebagai pusat inspirasi dan kolaborasi, dengan harapan kehadiran showroom ini, industri bangunan dan desain di Jawa Tengah akan lebih terwadahi dan berkembang dengan baik,” ujar Jali. (Gan)
